Ahnāf bin Qais bernama lengkap Abū Bahar Ahnāf bin Qais bin Mu’āwiyah bin Hashīn Al-Tamīmī Al-Bashrī (w. 72 H.), seorang tokoh masyarakat di Bashrah. Menurut Al-Dzahabī, Ahnāf adalah seorang intelektual yang fasih berbicara, pemberani, dan banyak menaklukkan kota-kota (Siyar A’lām Al-Nubalā’, Jilid 4/86).
Menurut Ibnu Khaldūn, Ahnāf sempat murtad setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw., lalu bergabung ke dalam barisan Musailamah al-Kadzdzāb. Namun, Ahnāf kembali bersyahadat pada masa kepemimpinan Umar bin Khatthāb. Saat itulah, Ahnāf banyak berjasa dalam menaklukkan kota-kota di Irak (Tārīkh Ibn Khaldūn, Jilid 2/110).
Al- Thurthūsyī tidak saja menggambarkan peran seorang intelektual yang harus berani menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa, seperti dilakukan Ahnāf bin Qais. Tetapi, seorang penguasa di hadapan rakyat harus berperan sebagai pelayan yang melayani, bukan minta dilayani. Penguasa harus mengalami kerugian demi keuntungan rakyat, dan tidak boleh mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri.
Al- Thurthūsyī mengisahkan, pada suatu saat Harūn ar-Rasyīd bertawaf di Kakbah, dan dia bertemu pamannya, Abdullah al-‘Umrī. Kemudian Abdullah bertanya, “Wahai Harun, kamu tahu berapa jumlah orang yang bertawaf di sini?” Harūn ar-Rasyīd menjawab, “Tidak. Hanya Allah yang tahu.”
Abdullah pun berpesan: “Hai, anak muda, setiap orang dari mereka akan dimintai pertanggung jawaban tentang diri mereka sendiri. Sementara engkau yang hanya seorang diri akan diminta pertanggung jawaban tentang mereka semua.” Maka, menangislah Harūn ar-Rasyīd mendengar nasihat pamannya (Sirāj al-Mulūk, 1868:47).
Menurut Al- Thurthūsyī, seorang pemimpin, dalam setiap tindak tanduknya, akan menanggung seluruh beban hidup rakyat, berjuang membahagian hati rakyat, berperang melawan musuh-musuh demi rakyat, menjaga kehormatan harkat martabat rakyat. Bahkan, seorang pemimpin bermaksiat dan mengingkari perintah Tuhan demi rakyat. Pemimpin rela masuk neraka demi menanggung dosa-dosa rakyat.
Kata Al- Thurthūsyī, andai saja Allah tidak menciptakan penghalang di antara manusia dan hatinya, tentu saja orang yang berpikiran waras tidak akan siap memikul amanah sebagai pemimpin. Orang yang meiliki hati nurani tidak akan menyandang derajat seorang pemimpin. Perempumaan seorang pemimpin di hadapan rakyat bagaikan seorang juru masak di hadapan orang yang makan hasil masakannya.



