Peradaban Atlantis Berada di Wilayah Jawa Timur?

Citra peta kuno di sekitaran Pulau Jawa. (Foto: atlantisjavasea.files.wordpress.com)

Kisah topeng ini mengemuka ke publik setelah Bertuzzi bertemu Anacleto Spazzapan di sebuah pameran barang antik di Milan, Italia. Spazzapan dikenal sebagai pedagang barang antik yang malang melintang di Indonesia.

Spazzapan memiliki ratusan topeng logam yang didapat dari pedagang benda-benda kuno Jawa Timur. Dia mengatakan telah melakukan uji laboratorium terhadap topeng di laboratorium Arcadia, Milan Italia. Dan usia topeng itu mengagetkan: hampir 3000 tahun. Bertuzzi kemudian membeli seluruh topeng itu.

Temuan topeng ini makin meyakinkan Paolo Bertuzzi bahwa ada peradaban lain –entah peradaban apa—sebelum Hindu-Buddha merebak di Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Hasil analisis kimiawi Laboratorium Arkeologi Giuseppe Pulitani di Colonna, Roma, Italia, menyebutkan bahwa topeng itu dibuat dengan mencampur perunggu, seng, pasir dan tanah liat. Teknik tertentu membuat topeng berwarna abu-abu kehijauan.

“Temuan material keramik metal ini satu-satunya di dunia. Sekarang, cermet (ceramic-metal) dikembangkan untuk membuat cip komputer,” kata Giardino.

Fiorella Rispolli sepakat topeng itu terbuat dari bahan material aneh terdiri dari campuran keramik dan logam. Bobot topeng itu, menurut dia, sangat ringan dan rapuh.

“Bahan itu tidak pernah saya temui selama saya berkutat selama 30 tahun di situs arkeologi Asia,” kata Rispolli.

Apakah komputer sudah dikenal pada masa Kerajaan Majapahit? Claudio Giardino sempat terdiam mendapat pertanyaan tersebut.

“Saya tidak berpikir ke arah itu,“ kata ahli arkeologi University of Arkansas-Rome Centre, Italia itu. Pertanyaan itu muncul karena materi topeng perunggu artefak yang ditemukan di Gua Made merupakan campuran antara tanah liat (keramik) dan logam (metal). Bahan ini lazim dikenal dengan cermet, yang saat ini dipakai membuat cip komputer.

Ketika pertama kali ditemukan sekitar tahun 2006, kabarnya ada ratusan topeng bersama benda artefak lainnya di Made. Sebagian besar topeng yang kondisinya masih utuh sudah jatuh ke tangan kolektor, sedangkan Museum Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur, hanya menyimpan empat topeng yang kondisinya pecah-pecah.

Topeng asal Gua Made ini menarik peneliti dunia ketika para ahli meneliti topeng koleksi Bertuzzi yang bahannya sangat unik dan langka. Pada Mei 2011, bahkan diadakan konferensi internasional untuk membahas dan meneliti topeng Gua Made.

Namun, Guru Besar Arkeologi Universitas Indonesia Agus Aris Munandar, membantah bahwa topeng Gua Made meruapakan hasil karya peradaban ribuan tahun Sebelum Masehi.

Menurutnya, jika dilihat dari konteks temuannya yang berada di dalam Gua Made, topeng tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-10 sampai abad ke-14 Masehi. Topeng tersebut diduga ada kaitannya dengan situs Kerajaan Majapahit di Trowulan.

Menurut Agus, bata yang dibuat untuk membangun Gua Made ukurannya sama dengan bata di Trowulan.

Sementara itu, berdasarkan kesimpulan Ahmad Hariyono, Abdul Bagus, Asto, Soekarjo, Suwanta, Bambang Susilo, S.P., Ira Fatmawati, S.Si., Ni Ketut Wardani, S.S., M.A, dari Tim Konsevasi BP3 Jatim, penemuan topeng-topeng Gua Made menjadi komoditi yang ditujukan untuk mendapatkan keuntungan, meskipun juga menjadi media penelitian arkeologi maupun disiplin yang lain.

Pos terkait