Sementara itu, menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar, QS. Ali ‘Imran (3): Ayat 26 berkaitan dengan orang-orang dari kalangan Yahudi atau Bani Israil yang merasa iri terhadap cahaya nubuwat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Sebab, menurut orang Yahudi, selama beratus-ratus tahun lamanya, nubuwat dan risalah hanya pada Bani Israil.
“Kalau kita ukur secara sekarang; beliau (Rasulullah Saw.) datang membawa satu ideologi, yaitu Islam. Kemudian dengan sendirinya terbentuk satu kekuasaan di Madinah. Bukan beliau terlebih dahulu mengejar kekuasaan, lalu kemudian disusun ideologinya,” terang Buya Hamka.
Kekuasaan yang baru tumbuh tersebut tidak disenangi oleh para musuh. Bani Israil merasa bahwa seorang nabi hanya datang dari kalangan mereka saja. Tak ada yang lain. Maka, terang Buya Hamka, Allah Swt. mencabut nikmat kekuasaan itu dari Bani Israil.
Selanjutnya, Buya Hamka menuliskan, Ibnu Abbas mengatakan bahwa kata “al-mulku” yang dimaksud dengan al-mulku (kekuasaan) itu ialah an-Nubuwah, yaitu kenabian. Sejatinya ada dua jenis kekuasaan, yakni kekuasaan nubuwat dan kekuasaan duniawi. Adapun kekuasaan nubuwwat adalah kekuasaan atas rohani. Sedang kekuasaan duniawi adalah pada lahir.
Untuk itu, al-mulku atau kekuasaan, baik secara kerajaan dunia ataupun kerajaan nubuwat, diberikan oleh Allah kepada yang dikehendaki-Nya.
Kekuasaan duniawi bisa diberikan dan bisa dicabut. Tetapi, kekuasaan nubuwat yang diberikan kepada para nabi dan rasul tidak pemah dicabut. Bahkan setelah mereka mati, kekuasaan rohani yang mereka tinggalkan tetap berjalan. Tuhan bisa memuliakan seseorang, walaupun dia bukan raja atau Kepala Negara.
Ayat 26 Surat Ali Imran juga diketahui merupakan doa meminta kepada Allah Swt, untuk diberikan pemimpin yang mengayomi, adil, dan menyejahterakan rakyatnya, bukan pemimpin yang khianat, mengacuhkan rakyatnya, bahkan hanya mementingkan diri dan kelompoknya sendiri.
Agar orang-orang baik diberikan kekuatan dan kekuasaan, sehingga mereka bisa menyejahterakan banyak orang. Selain untuk memohon kepada Allah SWT agar diberikan pemimpin yang baik dan adil, ayat di atas juga bisa dibaca untuk meminta kepada Allah Swt agar diberi kekuatan dan kekuasaan, serta rezeki yang melimpah.
Teks doa yang diambil dari Al-Quran di atas merupakan pujian kepada Allah Swt, Dzat Pemilik Kekuasaan. Sehingga jika kita memang benar-benar ingin memiliki kekuatan, kekuasaan, dan rezeki yang melimpah, perlu disertai dengan usaha-usaha zahir agar kita memang layak untuk dipilih—yaitu belajar menjadi pemimpin yang baik, adil, dan memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang kepemimpinan.❒





