Tanggung jawab pengelolaan Igudar dibebankan pada seorang sekretaris yang disebut “Lamine”. Sementara sebuah komite yang dikenal sebagai “Inflas,” yang terdiri dari sekitar 10 perwakilan suku, juga memainkan peran penting. Setiap lumbung juga memiliki pemegang kunci yang disebut “Amir,” yang dibayar hanya untuk menjaga barang-barang berharga, dengan anggota suku lainnya dapat turut menjaga lumbung mereka sendiri.
Igudar bukan hanya sekadar lumbung penyimpanan, melainkan juga simbol kekayaan budaya dan sejarah masyarakat Amazigh. Sebagian besar lumbung-lumbung ini berada di sekitar kota selatan Agadir, namun juga ditemukan di wilayah Maroko lainnya. Mereka tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga sering digunakan sebagai tangki air, gudang makanan, perumahan, masjid, dan pondok penjaga.
Salah satu lumbung terbesar dan tertua, Agadir Imchguiguiln, telah berdiri lebih dari 700 tahun. Renovasi terbaru menunjukkan bahwa situs ini memiliki 130 lumbung, alun-alun, masjid, bahkan sel penjara.
“Igudar adalah simbol penting dari warisan material dan tak benda masyarakat Maroko, khususnya suku Amazigh,” ungkap Othman El Ferdaous, Menteri Kebudayaan Maroko.
Awal tahun ini, pemerintah Maroko meluncurkan inisiatif untuk memasukkan lumbung-lumbung kolektif Igudar dalam daftar situs warisan dunia UNESCO. Langkah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk menilai kembali dan mengusulkan situs-situs warisan nasional untuk mendapatkan pengakuan internasional.
“Pencalonan Igudar secara alami merupakan pengakuan atas peran dan tempat lembaga ini dalam masyarakat Maroko,” tambah El Ferdaous.
Lumbung-lumbung Igudar menawarkan pandangan mendalam tentang bagaimana masyarakat kuno mengelola kekayaan dan barang berharga mereka dengan cara yang mirip dengan konsep bank modern. Seiring dengan upaya Maroko untuk mendapatkan pengakuan UNESCO, lumbung-lumbung ini terus menginspirasi dan memberikan wawasan penting tentang evolusi sistem perbankan serta warisan budaya yang kaya dari suku Amazigh.*
