Banyak jenazah masih tergeletak di jalanan, termasuk di sekitar kawasan pasar, setelah serangan itu, kata Ziad dan warga lainnya kepada Reuters. Mayat-mayat berserakan di setiap sudut kamp pengungsi setelah serangan yang menewaskan ratusan orang itu.
“Kami melihat rudal terbang di atas kepala kami. Tidak ada yang melindungi kami,” kata seorang wanita Palestina di kamp tersebut, sebagaimana dilansir Al Jazeera. “Kami tidak tahu di mana anak-anak itu berada. Kami kehilangan mereka, dan sekarang kami terpaksa mengungsi untuk ketiga kalinya tanpa tahu ke mana harus pergi.”
Juru bicara sayap militer Hamas Brigade al-Qassam Abu Ubaidah menyatakan tindakan pasukan Zionis itu akan membahayakan para sandera yang tersisa di Gaza.
“Apa yang dilakukan Zionis di wilayah Nuseirat di Jalur Gaza Tengah adalah kejahatan perang yang rumit, dan yang pertama dirugikan adalah para tawanannya,” kata Abu Ubaidah via Telegram, menyampaikan peringatan keras pada Israel.
Sementara itu, situs berita Amerika Serikat (AS), Axios, melaporkan bahwa unit intelijen Amerika terlibat langsung dalam operasi pembebasan empat sandera tersebut–yang merupakan operasi pembebasan pertama sejak dimulainya perang Gaza.
Sementara, media Palestine Chronicle menulis, “Musuh berhasil membebaskan beberapa tawanannya dengan melakukan pembantaian yang mengerikan, namun pada saat yang sama, mereka membunuh beberapa dari mereka selama operasi tersebut,” dikutip pada Ahad (9/6/2024).
Rumah Sakit Martir al-Aqsa dilaporkan kewalahan menampung korban luka dan jenazah yang sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Karena kurangnya tempat tidur dan persediaan medis dasar, banyak yang ditempatkan di lantai dan di koridor rumah sakit.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Josep Borrell, mengutuk pembantaian warga sipil tersebut dan menyatakan bahwa pertumpahan darah harus segera diakhiri.♦





