Setelahnya dari Singapura, Sukarno melanjutkan penerbangan ke Rangoon, New Delhi, Karachi, Baghdad, dan Mesir. Presiden dan rombongan singgah di Kairo. Mereka menginap di Istana Koubbah. “Istana bekas Raja Faruk ini indah sekali,” tulis Mangil Martowidjojo, komandan polisi pengawal pribadi presiden yang ikut rombongan, dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945–1967. Sukarno melakukan kunjungan kenegaraan selama lima hari di Mesir, termasuk menghadiri perayaan Hari Revolusioner Mesir pada 23 Juli.
Setelah itu, Sukarno dan rombongannya langsung terbang ke Arab Saudi. Setibanya di Lapangan Terbang Jeddah, Raja Saud bin Abdul Aziz menyambutnya. Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah-Putih, penembakan meriam 21 kali, pemutaran lagu kebangsaan, barisan kehormatan, dan perkenalan. Rombongan lalu dijamu di Istana Raja.
“Sukarno berangkat bukan hanya sebagai seorang Muslim yang baik, tetapi juga seorang kepala negara. Maka, Sukarno di sana diterima kepala negara,” tulis Peter Kasenda, sejarawan Universitas 17 Agustus 1945, Jakarta. Sukarno disambut Meriah oleh Mesir maupun Arab Saudi karena tahun itu Indonesia berhasil menghelat Konferensi Asia-Afrika.
Sukarno tiba di Jeddah pada 24 Juli 1955. Usai penyambutan formal, Raja Saud mengantar langsung rombongan Presiden RI menuju Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah Saw. Ketika sampai di makam Nabi, menurut Mangil, ajudan Bung Karno, “Di sana Bung Karno menangis sejadi-jadinya. Lama Bung Karno berdiri mengheningkan cipta, berdoa di samping makam Nabi Muhammad di Madinah itu, sedangkan rombongan yang sangat kecil jumlahnya itu berdiri di belakang, termasuk saya,” tulis Mangil Martowidjojo dalam Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 (1999).
Husein Muthahar—pengarang lagu-lagu perjuangan seperti Hari Merdeka (17 Agustus Tahun 45), Hymne Pramuka, dan Syukur—yang ikut dalam rombongan Bung Karno bercerita, ketika Bung Karno berjalan di Kota Madinah bersama Raja Saud, dia bertanya kepada Sang Raja, “Di mana makamnya Rasulullah Saw., wahai Raja?” Raja Saud menjawab, “Oh, itu makam Rasulullah Saw. sudah terlihat dari sini.” Saat itu juga Bung Karno melepaskan atribut-atribut pangkat kenegaraannya.





