Haji tahun 1955 berbeda dengan era sekarang. Fasilitas penunjang kelancaran ritual belum sesempurna saat ini. Sebagai contoh, ritual sa’i, yaitu berjalan kaki dengan tergesa-gesa antara bukit Shafa dan Marwah, kala itu tak semudah semudah sekarang. Jalan antara kedua bukit tersebut masih sempit dan tidak rata. Ditambah lagi hiruk-pikuk pertokoan dan warung-warung makan di kiri kanan jalan.
Maka dari itulah, Sukarno merasa terusik. Akhirnya dia pun menggagas pembangunan tiga jalur tempat sa’i. Dan gagasan itu diaplikasikan oleh Pemerintah Arab Saudi, sehingga sampai saat ini tempat sa’i antara Bukit Safa dan Marwa terbagi menjadi tiga jalur. Jalur pertama dari Bukit Safa ke Bukit Marwah; jalur kedua Marwah ke Shafa; dan jalur ketiga berada di tengah-tengah jalur pertama khusus untuk jamaah berusia uzur serta penyandang disabilitas.
Sukarno juga merasa suasana Padang Arafah yang begitu tandus, yang menyebabkan umat Islam kepanasan saat menunaikan ibadah haji. Dia merasakan sendiri sengatan panas Arafah. Maka dari itu, dia pun mengusulkan kepada Raja Saud bin Abdulaziz al Saud untuk menanam ribuan pohon yang rindang. Tak hanya memberi usulan, Bung Karno juga mengirimkan ribuan bibit pohoh mindi untuk ditanam di Arafah. Atas jasa tersebut, Raja Fahd kemudian mengubah nama pohon mindi tersebut menjadi “Pohon Sukarno”. Dan jejeran pohon itu hingga kini masih terlihat menghijaukan Arafah.
Sebagai bentuk penghargaan atas sumbang saran Sukarno, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi mengundangnya secara khusus untuk melakukan inaugrasi pemugaran Masjid Nabawi di Madinah. Sukarno hadir pada acara tersebut didampingi Zainul Arifin dan Kiai Masykur.
Keesokan harinya, Sukarno menuju Mekkah. Selain beribadah, Sukarno menyempatkan untuk menerima jamuan dari pihak Kerajaan Arab Saudi, menggelar konferensi pers dengan wartawan, menerima para pemuda Indonesia, dan alim ulama setempat.
Sukarno juga mendapatkan “oleh-oleh” istimewa dari Raja Saudi. Dia dipersilakan membawa pulang mobil yang dikendarainya selama menjadi tamu negara di sana, yaitu mobil Chrysler Crown Imperial keluaran 1955 dengan mesin bermuatan 5,4 liter Hemihead V8 transmisi 2-speed Power Flite Automatic buatan Detroit, Michigan, AS. Mobil ini dibikin oleh desainer Virgil Exner dan hanya diproduksi 7.840 unit saja untuk seluruh dunia. (…bersambung…)
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





