Bung Karno Naik Haji (3): Perjalanan Haji Satu-Satunya yang Meninggalkan Banyak Legasi

Raja Saudi heran dan bertanya balik kepada Bung Karno. “Kenapa Anda melepaskan itu semua?” Bung Karno menjawab, “Yang ada di sana itu Rasulullah Saw., pangkatnya jauh lebih tinggi dari kita, aku dan dirimu.” Lalu Bung Karno berjalan merangkak menghampiri makam Nabi Muhammad Saw. Dia dan beberapa rombongan mengheningkan cipta, berdoa di samping makam Nabi Muhammad Saw.

Dalam sebuah video dokumenter koleksi Arsip Nasional RI, begitu Sukarno sampai di depan makam Nabi Muhammad, dia menengadahkan kepala dengan linangan air mata. Di sisi kirinya Wakil Perdana Menteri Zainul Arifin juga menangis haru. “Lama Bung Karno berdiri mengheningkan cipta, berdoa di samping makam Nabi Muhammad di Madinah, sedangkan rombongan yang sangat kecil jumlahnya itu berdiri di belakang, termasuk saya,” tulis Mangil.

Setelah itu, sebagaimana diceritakan oleh Zainul Arifin, Presiden dan rombongan inti diajak memasuki bangunan Kabah lewat pintu berlapis emas. Di dalamnya mereka shalat sunnah seperti yang umum dilakukan jamaah biasa di kawasan Hijir Ismail. “Usai shalat, Raja Saud dan tamu-tamu kenegaraannya mencuci dinding Kabah,” kenang Zuraida Fatma, putri Zainul Arifin, menceritakan kembali apa yang diceritakan ayahnya kepadanya.

Bacaan Lainnya

Pada 26 Juli 1955, Sukarno dan rombongan berangkat dari Jeddah menuju Mekah, menggunakan pakaian ihram untuk berumrah. Sore hari, 28 Juli 1955, Sukarno dan rombongannya menuju Arafah. Keesokan harinya mereka wukuf di Arafah, lalu menuju Muzdalifah pada malam harinya. Sukarno mengumpulkan batu di sini untuk melontar. Tengah malam mereka menuju Mina.

Pada Hari Raya Idul Adha jatuh pada 30 Juli 1955, Sukarno melontar batu. Usai melakukan rangkaian lontar batu, dia dan rombongannya menuju Mekkah untuk tawaf dan sai. Usai itu, Sukarno beserta rombongan bertolak ke Mina. Pada 31 Juli 1955 sore Sukarno kembali melontar batu.

Pada 1 Agustus 1955 sore, Sukarno dan rombongannya meninggalkan Mina menuju Taneem. Usai mengenakan pakaian ihram di Taneem, mereka menuju masjid Al-Haram di Mekah untuk berumrah. Insting arsitek Sukarno rupanya tersengat saat menyaksikan kondisi masjid Al-Haram yang berjubal umat saat berhaji. Yuke Ardhiati, dalam Bung Karno Sang Arsitek (2005), menulis jika Sukarno  menyarankan agar jalur sai di Mekkah dibagi menjadi dua dan didirikan bangunan dua lantai, agar bisa memuat sebanyak mungkin jamaah yang melakukan sai.

Pos terkait