Berbiaya Sekitar Rp20 M, Peneliti Sebut Debat Capres Cuma Sedikit Pengaruhi Elektabilitas Paslon

Pengaruhi Pemilih Bimbang

Sementara itu, pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai bahwa debat perdana antar-capres Pemilu 2024 dapat memengaruhi pilihan swing voters atau pemilih bimbang

“Saya melihat debat bisa memengaruhi pilihan seseorang. Bagi yang masih swing voters, bagi yang galau masih belum menentukan, bisa saja ketika melihat debat mereka akan memilih dan menentukan pasangan calon,” kata Ujang, melalui keterangan tertulisnya, Senin (11/12/2023).

Bacaan Lainnya

Menurut Ujang, debat perdana merupakan momen penting untuk melihat gagasan para capres, sehingga dapat memengaruhi pemilih bimbang maupun pemilih pemula.

“Kalau kita bicara apa pentingnya, ya, sangat penting. Untuk melihat isi kepala dari capres/cawapres, untuk melihat visi dan misi, program-program, serta ide atau gagasan yang ditawarkan kepada publik atau masyarakat Indonesia, termasuk para pemilih pemula,” ujarnya.

Menurut Ujang, pemilih bimbang dan pemula bisa memberikan penilaian dengan melihat gaya bahasa maupun gestur tubuh para capres dalam debat perdana, untuk mereka jadikan acuan dalam menentukan pilihan nantinya.

“Jadi, pentingnya debat bukan hanya sekadar di atas panggung, presentasi, sudah. Tidak. Tetapi, rakyat Indonesia, terutama pemilih pemula itu, bisa menilai seperti apa ide atau gagasannya. Seperti apa program-program, visi dan misinya? Seperti apa presentasinya? Bagus atau tidak gaya bahasanya? Lalu gestur tubuh dalam presentasi itu ‘kan dinilai semua,” katanya.

Tidak Diminati ‘Wong Cilik’

Sedangkan menurut pendiri LSI Denny J.A., debat capres/cawapres lebih diminati oleh kalangan terpelajar, yang jumlahnya 10 persen saja dari populasi pemilih. Sementara populasi pemilih wong cilik, menurut dia, tak menikmati debat. Padahal jumlah populasi wong cilik ini lima kali lebih besar ketimbang kalangan terpelajar.

Maka dari itu, menurut dia, waktu kampanye yang cukup singkat ini, hanya 75 hari, lebih baik digunakan untuk datang ke kelompok yang lebih ditargetkan. Misalnya, blusukan untuk berjumpa dengan pemilih di kantong-kantong wong cilik.

“Bukankah suara 1 profesor dalam kotak suara memiliki nilai yang sama dengan suara 1 petani tamatan SD?” kata Denny, dalam keterangan tertulisnya pada Senin, 27 November 2023.*

Pos terkait