Noya Zion, wanita muda Israel membongkar propaganda media negaranya setelah fotonya dicatut sebagai korban tewas demonstrasi Iran.
Noya Zion mengaku kaget luar biasa saat menyaksikan siaran Channel 12, pada Senin (26/1/2026). Ia terkejut ketika televisi nasional Israel, milik Keshet Media Group, yang berpusat di Tel Aviv ini menampilkan fotonya dengan judul besar : “Empat Orang Yahudi Tewas dalam Protes di Iran.” Dalam berita, ia disebut sebagai Sanaz Javaherian, seorang demonstran yang diduga ditangkap dan dipukuli hingga tewas oleh pasukan keamanan Iran.
Noya kemudian mengunggah dalam akun IG-nya @nnnnoya. “Saya di sini, saya hidup, duduk di rumah, dan dalam setengah jam saya akan pergi pelatihan. Saya belum pernah ke Iran seumur hidup saya,”seru Noya dalam sebuah video yang merekam dirinya sendiri di samping siaran TV yang salah tersebut.
Ayah Noya, dengan pendekatan yang lebih santai, membagikan komentarnya di Facebook. Ia berspekulasi bahwa kebingungan tersebut mungkin berasal dari kemiripan Zion dengan aktris Israel Niv Sultan, yang dikenal karena perannya dalam serial thriller propaganda Tehran.
“Mungkin dia mirip Niv Sultan; mungkin Niv Sultan mirip dengannya. Damai untuk keduanya,” tulisnya.
“Bagaimanapun, Noya kita tidak berada di Tehran minggu lalu… Abaikan saja si pengganggu di Facebook dengan ratusan ribu pengikut; ada pihak yang bersekongkol dalam aksi penggangguan itu. Channel 12, saluran orang-orang bodoh”, lanjutnya.
Propaganda Salah Arah dan Kebohongan Besar
Cuitan Noya memantik komentar para netizen. Seorang netizen menyorotinya sebagai contoh “propaganda Israel” yang salah arah. “Propaganda Israel sangat efisien sehingga bahkan membunuh pemukimnya sendiri di TV.”
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam sebuah unggahan, mengkritik penyebaran informasi palsu dan menyebutnya sebagai bagian dari pola disinformasi dan narasi menyesatkan yang lebih luas yang menargetkan Iran.
Dilansir Wana, pejabat kemenlu Iran menggambarkan insiden tersebut sebagai bagian dari upaya propaganda yang lebih luas dan terorganisir. Ia membandingkan taktik tersebut dengan “Große Lüge” (Kebohongan Besar), sebuah teknik propaganda yang secara historis dikaitkan dengan era Hitler.
Israel dan Trump Diduga Terlibat
Kerusuhan di Iran meningkat pada 8 Januari dan berlanjut selama beberapa hari, menyusul protes damai di pasar dan bazaar Iran di mana para pedagang menyerukan tindakan pemerintah untuk menghentikan devaluasi rial Iran. Banyak pengamat yang berpendapat bahwa kerusuhan massif di Iran ‘diotaki’ oleh rezim Israel dan Presiden AS Donald Trump. Otoritas Iran mengkonfirmasi bahwa badan intelijen Amerika dan Israel terlibat langsung, memberikan pendanaan, pelatihan, dan dukungan media kepada para perusuh dan teroris bersenjata yang beraksi di jalanan.***





