UGM Temukan 7 Spesies Baru Lobster Air Tawar di Papua Barat

Salah satu spesies lobster air tawar yang ditemukan di Papua Barat. Foto:UGM

“Komunitas penghobi lobster hias sering kali jadi sumber informasi pertama kami. Dari sana, kami lanjutkan dengan penelitian sistematis,” ungkap Rury.

Hasil filogeni molekuler menunjukkan bahwa ketujuh spesies termasuk dalam kelompok Cherax bagian utara (northern lineage). Dengan penambahan ini, jumlah spesies dalam kelompok tersebut meningkat dari 28 menjadi 35. Setiap spesies memiliki karakteristik unik, mulai dari warna tubuh, bentuk capit, hingga struktur rostrum.

Misalnya, Cherax arguni memiliki tubuh biru gelap dengan belang krem dan capit dengan patch putih transparan yang khas.

Analisis genetik menunjukkan bahwa Cherax arguni dan Cherax bomberai memiliki hubungan kekerabatan dekat, namun perbedaan genetiknya cukup besar untuk dikategorikan sebagai spesies yang berbeda.

Analisis ini menggunakan metode Bayesian dan Maximum Likelihood berbasis DNA mitokondria, dengan tingkat perbedaan sekuens mencapai 11 persen. “Ini menunjukkan adanya isolasi evolusioner yang cukup lama,” jelas Rury.

Rury juga mengingatkan pentingnya konservasi spesies air tawar di Papua. Banyak dari spesies yang ditemukan hidup di sungai-sungai kecil dan anak sungai yang belum terpetakan secara ekologis. Beberapa spesimen bahkan hanya ditemukan di satu titik lokasi, menjadikannya sangat rentan terhadap gangguan lingkungan.

“Untuk menjaga populasi, kami sengaja tidak membuka lokasi penemuan spesifik dalam publikasi,” katanya.

Penemuan ini tidak hanya memperkaya data keanekaragaman hayati nasional, tetapi juga mengukuhkan peran UGM sebagai pusat unggulan riset hayati tropis. Keterlibatan dalam kolaborasi internasional serta publikasi di jurnal bereputasi menegaskan kapasitas akademik UGM di kancah global.

“UGM berkomitmen pada riset yang berdampak pada pelestarian lingkungan dan penguatan basis data biodiversitas Indonesia. Sains yang kuat harus berpijak pada pemahaman lokal,” pungkas Rury.***