Sipan Khalil selamat dari neraka ISIS. Perempuan Yazidi berusia 26 tahun itu mengaku pernah ditahan langsung oleh pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dan istrinya, setelah seluruh keluarganya dibantai dalam genosida Yazidi pada 2014.
Di sebuah apartemen sederhana di Berlin, Jerman, Sipan Khalil mengisahkan masa lalunya—pelan, tapi tutur katanya seperti menusuk hati. Ia adalah penyintas genosida Yazidi 2014. Seorang perempuan yang selamat setelah bertahun-tahun hidup dalam cengkeraman ISIS, bahkan di rumah pemimpinnya sendiri: Abu Bakr al-Baghdadi.
“Pada 2014, saya jatuh ke tangan ISIS bersama keluarga saya di desa Kocho,” ujarnya kepada Rudaw. Kalimatnya sederhana. Tapi di baliknya ada pembantaian. Ayahnya tewas. Saudara laki-lakinya dibunuh. Paman dan sepupu tak tersisa.
Kocho, desa kecil di Sinjar, Iraq Utara, berubah menjadi ladang kematian. ISIS menyerbu. Lebih dari 6.400 perempuan dan anak Yazidi diculik. Mereka dijual, diperkosa, disiksa. Dunia mencatatnya sebagai genosida. Sipan mengalaminya langsung.
Ia masih remaja ketika hidupnya direnggut.
Dari Kocho ke Rumah Pemimpin ISIS
Sipan berpindah tangan. Dari satu militan ke militan lain. Hingga akhirnya, ia berada di lingkaran paling gelap ISIS.
“Awalnya saya di rumah wakil Abu Bakr al-Baghdadi,” katanya. Rumah itu kemudian dibom. Sang wakil tewas. Dari sana, Sipan dibawa ke rumah istri Baghdadi.
Di tempat itu, ia bukan hanya tawanan. Ia pembantu rumah tangga. Mengurus anak-anak. Membersihkan rumah. Dan menanggung ketakutan setiap hari.
Tentang Baghdadi, Sipan tidak bertele-tele. “Dia teroris. Kata ‘teroris’ saja belum cukup menggambarkan dia,” ujarnya. “Tidak ada agama, tidak ada nurani, tidak ada belas kasihan.”
Yang lebih mengerikan, kata Sipan, bukan hanya dirinya yang menjadi korban. Ada anak-anak perempuan. Usia 8 atau 9 tahun. “Ia melakukan pelecehan terhadap mereka,” katanya lirih. “Istrinya bahkan lebih kejam.”
Buku Catatan yang Hampir Merenggut Nyawa
Dalam ketakutan, Sipan melakukan perlawanan. Ia mencatat. Nama-nama pelaku. Siapa membawa siapa. Siapa menjual siapa. Semua ditulis di sebuah buku kecil. Buku itu lantas ditemukan. “Mereka menemukannya di saya,” katanya. “Sejak itu, penyiksaan semakin parah.”
Ia dikurung dalam sel isolasi selama seminggu. Gelap. Tanpa makanan. Tanpa cahaya. Tanpa kepastian hidup. Namun Sipan bertahan.
Bom yang Menyelamatkan
Setelah ISIS kalah, penderitaan belum usai. Sipan hampir kembali diperjualbelikan. Kali ini lintas negara. “Mereka hendak menjual saya ke Lebanon,” katanya.
Dalam perjalanan, sebuah bom meledak di dekat mobil mereka. Penculiknya tewas. Sipan terluka, tapi hidup. “Bisa dibilang, Tuhan menyelamatkan saya,” ujarnya.
Sebuah keluarga lokal menolongnya. Ia akhirnya kembali ke Irak, lalu direlokasi ke Jerman.
Hidup Baru, Luka Lama
Di Jerman, hidup Sipan perlahan tertata. Ia belajar. Bekerja di Farida Organization, lembaga HAM yang didirikan para penyintas Yazidi. Ia juga mengurus adik-adiknya.
“Kami kehilangan orang tua,” katanya. “Saya yang bertanggung jawab atas mereka.”
Namun luka tak pernah benar-benar hilang.
Ketika melihat gambar kekerasan terhadap warga Kurdi di Aleppo beberapa waktu lalu, ingatannya kembali ke 2014. “Itu seperti mengulang genosida,” katanya. “Jika dunia diam, ini bisa terulang.”
Sipan kini rajin berbicara di forum-forum publik di Jerman. Dari konferensi ke konferensi. Dari satu ruang diskusi ke ruang lain.
Tujuannya satu: agar dunia tidak lupa. “Agar apa yang terjadi pada kami—Yazidi dan Kurdi—tidak pernah terjadi lagi,” katanya.
Sipan selamat. Tapi ceritanya adalah pengingat: genosida bukan hanya tentang masa lalu. Ia bisa kembali—jika dunia memilih berpaling.***