Tikungan Maut Sitinjau Lauik Tinggal Cerita: Kemen PU Bangun Flyover Senilai Rp2,793 T

Pemerintah membuat flyover Panorama untuk mengurai potensi bahaya Sitinjau Lauik. Foto:GMMobil
Flyover Sitinjau Lauik dibangun untuk menjawab tantangan di ruas jalan Padang–Solok, yang dikenal ekstrem dan rawan kecelakaan.

__________

Tingkungan Maut Sitinjau Lauik dua tahun lagi lagi tinggal cerita. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) resmi menggandeng PT Hutama Karya (Persero) untuk menggarap proyek strategis Flyover Sitinjau Lauik I di Sumatera Barat. Proyek yang dikerjakan melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) ini menelan biaya hingga Rp2,793 triliun, dengan masa konstruksi 2 tahun.

Flyover Sitinjau Lauik dibangun untuk menjawab tantangan di ruas jalan Padang–Solok, yang dikenal ekstrem dan rawan kecelakaan. Dengan panjang 2,774 kilometer, jalan layang ini akan menghubungkan Kota Padang dan Kabupaten Solok sebagai bagian dari jalan nasional Lintas Sumatera.

Bacaan Lainnya

Groundbreaking proyek telah dilakukan pada 3 Mei 2025, ditandai dengan kehadiran langsung Menteri PUPR Dody Hanggodo yang sekaligus meninjau kondisi jalan di Sitinjau Lauik. Dalam kesempatan itu, Menteri Dody menyampaikan bahwa pembangunan flyover akan dilakukan selama 2 tahun masa konstruksi dan dilanjutkan dengan 10 tahun masa layanan.

“Geometrik jalan di Sitinjau Lauik I sangat tajam dan berbahaya. Perlu intervensi teknis melalui pembangunan jalan baru yang memenuhi standar keselamatan,” ujar Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur PUPR, Rachman Arief Dienaputra dikutip dari berita resmi Hutama Karya, Sabtu, 7 Juni 2025.

Proyek ini dikerjakan oleh PT Hutama Panorama Sitinjau Lauik (HPSL), sebuah badan usaha pelaksana hasil konsorsium antara Hutama Karya (55 persen) dan anak usahanya, PT Hutama Karya Infrastruktur (HKI) (45 persen).

Proyek juga mencakup pemeliharaan jalan eksisting serta pemasangan sistem Weigh-in-Motion (WIM) untuk pengawasan beban kendaraan. Seluruh desain dan konstruksi dirancang tahan gempa, mengingat kawasan ini berada di jalur pegunungan dan lempeng patahan.

Executive Vice President Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Adjib Al Hakim, menyebut proyek ini sebagai langkah strategis untuk memajukan infrastruktur Sumatera Barat. Ia menekankan bahwa skema KPBU memungkinkan percepatan proyek secara berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat ekonomi nyata.

“Flyover ini akan memperlancar mobilitas penduduk, akses ke fasilitas umum, dan membuka akses ke destinasi wisata seperti Danau Singkarak dan Lembah Harau. Distribusi logistik akan lebih efisien, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja,” jelas Adjib.

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi turut hadir dalam peresmian groundbreaking dan menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah pusat terhadap pembangunan infrastruktur di daerahnya.

“Atas nama masyarakat Sumatera Barat, kami mengucapkan terima kasih kepada Menteri PU Dody Hanggodo atas kunjungan dan dukungannya. Kami berharap konstruksi flyover Sitinjau Lauik dapat segera terealisasi demi kemajuan masyarakat Sumbar,” ujar Mahyeldi.

“Kegiatan konstruksi akan dilakukan selama 2 tahun dan dilanjutkan dengan masa layanan selama 10 tahun,” kata Menteri Dody dikutip dari laman Kemen PU.***

Pos terkait