Ekspedisi Macan Tutul Jawa di Pegunungan Sanggabuana mencatat 19 individu macan tutul dan kumbang, termasuk dua anakan. Data ini jadi dasar dorongan ubah hutan Sanggabuana jadi kawasan konservasi.
__________
Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa mencatat temuan menggembirakan di Pegunungan Sanggabuana. Mereka memasang 40 kamera jebak yang merekam 198 aktivitas satwa, termasuk 19 individu Macan Tutul Jawa dan Macan Kumbang, dua di antaranya masih anakan. Survei ini menjadi pertama yang dilakukan dengan metode ilmiah di kawasan tersebut.
Bernard T. Wahyu Wiryanta, Koordinator Tim Survei dari Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), menyatakan timnya tidak hanya mendata populasi macan tutul, tetapi juga melakukan mitigasi ancaman dan pemetaan preferensi pakan. “Data ini bisa menjadi dasar perubahan fungsi hutan Sanggabuana menjadi kawasan konservasi,” ujar Bernard seperti dilansir laman TNI AD dilihat pada, Rabu, 17 September 2025.
Prajurit Resimen Latihan Tempur (Menlatpur) Kostrad ikut berperan aktif. Mereka mendampingi penelitian, melakukan patroli anti perburuan, dan mencegah perambahan hutan. Kehadiran mereka menekan angka perburuan satwa dilindungi secara signifikan.
Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa dilepas Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, M.Sc., pada Februari 2025 di Menlatpur Kostrad, Sanggabuana, Kabupaten Karawang. Hingga Agustus 2025, tahap pertama survei rampung. Tim memindahkan kamera ke lokasi lain untuk survei lanjutan.
Hasil sementara menunjukkan populasi macan tutul masih signifikan, namun indikasi kepadatan satwa di sekitar 10.000 hektare ini mengingatkan perlunya perlindungan lebih serius.
Kasad Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan komitmen TNI AD melestarikan alam melalui program “Bersatu Dengan Alam”. Ekspedisi ini juga mempercepat proses penetapan Sanggabuana sebagai kawasan konservasi, sekaligus menegaskan peran TNI AD tidak hanya menjaga kedaulatan, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang.***

