Ternyata Limbah Panen Tembakau Bisa Diolah Menjadi Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Penelitian-penelitian Mutahir Tentang Tembakau sebagai Bahan Bioetanol

Dikutip dari https://www.sci.ui.ac.id/, Kamis (14/12/2023), Dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) Dr. Ratna Yuniati, M.Si., menyebut tanaman dan limbah tembakau dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif ramah lingkungan serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Salah satunya dijadikan energi dan bahan bakar ramah lingkungan atau Biofuel.

Ratna menyampaikan temuan itu saat menjadi pembicara dalam acara webinar Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS), yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (UPT K3L) UI, pada 6 Juni 2023, melalui aplikasi zoom meeting.

Bacaan Lainnya

Pakar ekofisiologi tumbuhan FMIPA UI tersebut menjelaskan, hampir semua bagian tanaman tembakau, hingga limbahnya, dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Limbah batang tembakau, kata dia, bisa dimanfaatkan menjadi bahan padat alternatif briket penghasil energi panas,dengan nilai kalor sebesar 3.177 kalori/gram.

Setiap batang pohon tembakau, lanjut Ratna, memiliki kandungan selulosa sebesar 35-40 persen. Kandungan ini bisa dikembangkan menjadi produk olahan, seperti kertas, bioetanol, dan bioplastik.

Sedangkan biji tembakau dapat diolah menjadi energi dan bahan bakar nabati atau biofuel.

Biofuel berbasis tembakau dapat mengurangi emisi CO2 sekitar 75 persen lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil. “Minyak yang dihasilkan biji tembakau dapat diolah menjadi biofuel. Ini cukup potensial menjadi alternatif pengganti bahan bakar fossil,” kata Ratna.

Penelitian tentang manfaat tembakau ini juga pernah dilakukan oleh tiga SMA Nuris Jember, Jawa Timur, yaitu Tegar Ramadani, M. Nidhor Fairuza, dan Alya Nur Karimah. Hasil penelitian tersebut mengantarkan ketiganyameraih juara 1 dalam  Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) “FUTURA 2020 National Scientific Paper and Essay Competition” di Universitas Padjadjaran (Upad), Bandung, Jawa Barat.

Menurut salah satu anggota tim penelitis, Tegar Ramadani, secara global, keberadaan sumber energi fosil semakin lama semakin berkurang. Cadangan energi fosil terbatas, sementara kebutuhan industri terhadap energi tersebut kian membengkak seiring terus bertambahnya jumlah manusia.

Kondisi tersebut, kata Tegar, tidak bisa dibiarkan dan harus dicarikan solusinya. Sebab, energi minyak adalah kebutuhan pokok industri sekaligus manusia secara tidak langsung. Hampir tidak ada industri yang tidak membutuhkan bahan bakar minyak. Kenyataan inilah yang mendorong Tegar dan kawan-kawan mencari alternatif dengan menggali sumber energi terbarukan.

“Limbah batang tembakau cukup bagus kandungan etanolnya sebagai pengganti energi fosil. Juga ramah lingkungan,” terangnya, dikutip Kamis (14/12).

Sesuai hasil eksperimen yang diuji coba di laboratorium IPA SMA Nuris Jember, kandungan etanol batang tembakau mencapai 40 persen lebih. Jika dicampur dengan etanol dari daun nanas, yang mencapai lebih dari 60 persen, maka akan menghasilkan etanol yang lebih baik dan sempurna untuk bahan bakar.

“Limbah batang tembakau cukup banyak. Daun nanas juga banyak. Tinggal bagaimana pihak-pihak terkait mengembangkan ini guna mencari pengganti energi fosil,” pungkasnya.

Sementara itu, dikutip dari laporan Tim Planethijau (2010), sebuah penelitian yang dilakukan Vyacheslav Andrianov, Ph.D., di Thomas Jefferson University, Amerika Serikat, menyatakan bahwa tembakau sebagai bahan utama pembuat rokok ternyata bisa menghasilkan biofuel lebih efisien dibandingkan tanaman pangan lainnya.

Selain itu, tembakau sangat menarik untuk diimplementasikan sebagai biofuel karena ide yang diambil adalah menggunakan tanaman yang tidak digunakan dalam produksi makanan.

Pos terkait