JAKARTA—Politik dan gimik adalah dua hal yang saling berhubungan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Masyarakat melihat dengan jelas bahwa panggung politik Indonesia dipenuhi kemunculan beragam gimik politik dari semua calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres). Hati-hati, jangan terlena. Berbahaya.
Beragam aksi gimik diperlihatkan para pasangan calon (paslon) untuk mencuri perhatian dan memenangkan hati pemilih. Mulai dari aksi panggung, mengkreasi bahasa tubuh, slogan-slogan, hingga aktivitas di media sosial dalam mengemukakan visi dan misi paslon demi elektabilitas dan memenangkan kontestasi.
Gimik ditampilkan sebagai alat untuk meraup simpati dan perhatian publik, membentuk citra positif, menumbuhkan daya tarik, bahkan menghasut pandangan pemilih dalam suasana persaingan politik.
Gimik politik bisa positif, bisa negatif. Dari sisi positif, dapat menciptakan pengalaman yang unik dan hiburan gratis bagi rakyat pemilih. Namun, gimik politik juga memiliki sisi negatif. Beberapa orang menganggap gimik politik sebagai trik atau manipulasi yang tidak jujur, terutama jika tujuan sebenarnya tidak jelas jika hal itu hanya dilakukan untuk mendapatkan perhatian semata.
Gimik politik yang berlebihan atau berulang-ulang juga dapat kehilangan daya tariknya. Dianggap sebagai taktik yang menjengkelkan atau tidak efektif. Selain itu, gimik politik juga dapat menimbulkan harapan yang tidak realistis atau menyesatkan, terutama jika janji-janji yang diiklankan tidak sesuai, hanya omong kosong. Ini dapat melahirkan kekecewaan dan hilangnya kepercayaan.
Dosen Komunikasi Politik Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Fikri Disyacitta mengingatkan bahwa penggunaan gimik dalam kampanye politik dapat berbahaya jika dijadikan sebagai satu-satunya strategi kampanye.
“Pada era media sosial seperti sekarang, menurut saya, penggunaan gimik untuk membangun political branding merupakan hal yang lumrah atau wajar. Namun, ingat, akan memberikan dampak negatif terhadap masyarakat jika gimik dijadikan hanya satu-satunya strategi dalam kampanye,” ujar Fikri, dilansir Tempo.co pada Sabtu, (2/12/2023), dikutip Rabu (24/1/2024).
Fikri juga menjelaskan bahwa penggunaan gimik sebagai satu-satunya strategi kampanye, dapat menjauhkan masyarakat dan politisi dari tradisi politik programatik.
Politik programatik adalah politik yang mengedepankan program-program bersifat konkret, untuk menjawab permasalahan yang dialami oleh masyarakat.





