Teater Koma Tampilkan Rumah Sakit Jiwa, Lakon yang Tetap Relevan Setelah 35 Tahun

Teater Koma
Oplus_131072

Dari segi proses, hal yang sama dengan 35 tahun lalu adalah para pemain tidak hanya membaca naskah dan berlatih di ruang latihan, tetapi juga melakukan observasi ke rumah sakit jiwa serta berdiskusi dengan psikolog klinis dan psikiater.

Proses tersebut menjadi bagian penting agar para pemain memahami setiap karakter, sehingga apa yang disaksikan penonton lahir dari empati dan pemahaman yang utuh,” terang Rangga Riantiarno, Sutradara Rumah Sakit Jiwa.

Selain pendalaman karakter, identitas visual setiap tokoh juga menjadi perhatian dalam pementasan ini. Perancang busana Samuel Wattimena dan Rima Ananda merancang kostum yang tidak hanya merepresentasikan profesi para tokoh, tetapi juga membantu mempertegas karakter, dinamika psikologis, dan perjalanan masing-masing tokoh di atas panggung.

Bacaan Lainnya

“Kami tidak ingin kostum hanya menjadi pelengkap visual. Setiap rancangan dibuat untuk membantu penonton mengenali karakter, latar belakang, hingga perubahan yang dialami masing-masing tokoh sepanjang cerita.

Karena itu, prosesnya melibatkan diskusi yang cukup panjang dengan sutradara agar setiap detail kostum benar-benar mendukung penceritaan,” ujar Samuel Wattimena, perancang busana Rumah Sakit Jiwa.

Rumah Sakit Jiwa ditulis oleh N. Riantiarno dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno. Pementasan ini turut didukung oleh tim kreatif lintas disiplin yang menghadirkan tata artistik, musik, tata cahaya, tata suara, kostum, multimedia, serta puluhan pemain lintas generasi yang bersama-sama menghidupkan kembali salah satu karya penting dalam perjalanan Teater Koma

Pementasan kali ini juga didukung tata musik garapan Fero A. Stefanus yang dirancang mengikuti dinamika emosi setiap adegan. Melalui komposisi yang dibangun khusus untuk Rumah Sakit Jiwa, musik menjadi elemen yang memperkuat atmosfer sekaligus mengiringi perjalanan emosional para tokohnya.

“Kembali menjadi Ibu dr. Rogusta setelah 35 tahun rasanya seperti bertemu kembali dengan seorang sahabat lama. Naskahnya tetap sama, namun pengalaman hidup selama puluhan tahun membuat saya melihat Rogusta dengan sudut pandang yang berbeda dan menemukan banyak lapisan baru dalam karakternya. Di saat yang sama, sebagai produser saya juga melihat bagaimana seluruh tim bekerja dengan dedikasi yang luar biasa untuk menghadirkan kembali lakon ini. Semua proses itu membuat Rumah Sakit Jiwa menjadi pertunjukan yang istimewa bagi saya, baik secara pribadi maupun sebagai bagian dari perjalanan Teater Koma,” ujar Ratna Riantiarno, pendiri Teater Koma, produser, sekaligus pemeran Ibu dr. Rogusta dalam Rumah Sakit Jiwa. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan