Dari Pajajaran, San Ali melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang untuk menemui Aria Damar, seorang adipati sekaligus pengamal sufi kebatinan. Syekh Siti Jenar diperkirakan berguru kepada Aria Damar antara tahun 1448- 1450 M. Selepas berguru kepada Aria Damar, Syekh Siti Jenar melanjutkan perjalanan menuntut Ilmu ke Baghdad hingga Mekkah. Setelah banyak beguru, Syekh Siti Jenar mendirikan pesantren di Dukuh Lemah Abang, sebelah tenggara Cirebon Girang.
Pada awal berdirinya Kerajaan Demak, terjadi gejolak ketika Demak menerapkan Islam formal berbasis aturan fikih yang ketat sebagai agama resmi negara. Karena kondisi sosial-politik itulah, intelektual Islam-Jawa, Soebardi, membantah sinyalemen para peneliti Belanda yang menyebut bahwa Syekh Siti Jenar dan para pengikutnya dihukum mati karena dipandang sebagai musuh Islam. Menurut Soebardi, Syekh Siti Jenar dihukum sebab bertentangan dengan Demak, karena dia menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan paham resmi kerajaan.
Soal bagaimana meninggalnya Syekh Siti Jenar, apakah benar dia dibunuh, sampai saat ini belum jelas. Pasalnya, masing-masing sumber sejarah yang mencatat kematiannya memiliki versi yang berbeda satu sama lain.
Historiografi Cirebon menunjuk bahwa Syekh Lemah Abang diadili dan dihukum bunuh di Masjid Sang Cipta Rasa di Keraton Kasepuhan. Setelah dikubur di area pemakaman Anggaraksa, kuburnya dibongkar dan diganti anjing, tetapi mayatnya berubah menjadi sekuntum melati. Maka dari itulah area makam itu disebut Pamlaten.
Makam tersebut berada di tengah pemakaman umum, di dalam bangunan sederhanan dan gelap seluas 5 x 5 meter. Makam Syekh Siti Jenar diyakini berada di tengah, diapit oleh makam dua muridnya, yaitu Pangeran Jagabayan di sebelah kanan dan Pangeran Kejaksan di sebelah kiri.
Sementara historiografi Jawa Tengah mencatat bahwa Syekh Lemah Abang diadili di Masjid Demak dan dieksekusi di masjid tersebut. Jenazahnya dikisahkan diganti dengan bangkai anjing.
Sedangkan Keraton Kanoman Cirebon menyebut bahwa para pengikut Syekh Siti Jenar yang dikejar-kejar oleh Sultan Demak sengaja dilindungi oleh Sunan Gunung Jati. Sang Sunan menyembunyikan mereka sebuah perkampungan yang disebut Kasunean—yang berarti “persembunyian””— di Kota Cirebon.
Kontroversi tentang Syekh Siti Jenar tidak hanya terkait ajarannya saja. Di mana makamnya pun, banyak versi tentang itu. Sebagian masyarakat Cirebon meyakini makamnya ada di kompleks pemakaman Kemlaten di Kota Cirebon. Sebagian lainnya menganggap makam Syekh Siti Jenar terletak di bukit Amparan Jati, tak jauh dari makam Syekh Datuk Kahfi.
Sedangkan penduduk Jepara yakin bahwa makam Syekh Siti Jenar terletak di Desa Lemah Abang, Jepara. Penduduk Mantingan, Ngawi, dan belakangan penduduk Tuban, juga meyakini makam Syekh Lemah Abang terletak di daerah mereka.

Pada bagian lain, menurut cerita tutur penganut Tarekat Akmaliyah—tarekat yang bersanad kepada Syekh Siti Jenar—makam tokoh tersebut dinyatakan hilang. Sebab, sebagaimana yang diyakini oleh pengikut Tarekat Akmaliyah, Syekh Siti Jenar berwasiat agar kuburnya tidak diberi tanda supaya tidak dijadikan peziarahan.
Meski belum ada kesepakatan tentang di mana makam Syekh Siti Jenar, masyarakat tetap menjadikan makam-makam yang ada di berbagai tempat tersebut sebagai tempat peziarahan. [—bersambung]
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





