Inspirasi pembangunan stadion itu muncul ketika Sukarno berkunjung ke Uni Soviet pada tahun 1956. Saat itu, Sukarno hadir dan berpidato di Stadion Luzhniki, yang dibangun di tengah Kota Moskow. Ia kagum melihat besar dan megahnya arsitektur gedung melingkar itu. “Saya ingin stadion seperti ini dibangun di Indonesia,” guman Sukarno.
Ketika itu, sekitar 85 ribu rakyat Uni Soviet memadati stadion untuk mendengarkan pidato Sukarno dan pemimpin mereka. Diapit Presiden Voroshilov dan sejumlah pemimpin Soviet lainnya, Sukarno menyampaikan pidato singkatnya. Ia berkata: “Hanya bangsa yang memilih jalur kapitalisme, imperialisme, dan fasisme yang tidak menginginkan perdamaian dunia.” Di akhir pidatonya, Sukarno mengatakan hubungan antara bangsa Indonesia dan Soviet sangatlah erat. “Jauh di Mata dekat di hati,” kata Sukarno.
Proyek pembangunan konstruksi awal stadion dimulai pada tanggal 8 Februari 1960, dan bangunan diresmikan dua tahun setelahnya, yaitu pada tanggal 24 Agustus 1962. Wakil Premier Anastas Mikoyan hadir dalam peresmian. Bangunan ini berdiri megah dan mampu menampung sekitar 110 ribu penonton. Ia menjadi stadion olahraga termegah di Asia Tenggara.
Tak lama setelahnya, stadion ini menjadi perhatian dunia saat diselenggarakannya Asian Games pada tahun 1962, yang kemudian dilanjutkan dengan penyelenggaraan Games of the New Emerging Forces (GANEFO) bulan Oktober 1963. Perhelatan ini dihadiri sekitar 51 negara. Uni Soviet mengirimkan sejumlah atletnya dan menempati peringkat kedua negara pengumpul medali emas setelah Tiongkok. (…bersambung…)
(Wijdan | Diolah dari Berbagai Sumber)





