The Guardian juga mencatat kasus agen kecerdasan buatan yang dilarang mengubah kode, tetapi malah membuat agen lain untuk mengerjakan tugas terlarang itu. Dalam kasus lain, Grok dilaporkan menyesatkan pengguna dengan pesan internal dan nomor tiket palsu.
CLTR menegaskan mereka belum menemukan insiden berskala bencana. Namun, pola yang muncul sudah menunjukkan gejala awal yang serius, mulai dari mengabaikan instruksi langsung, mengakali pengaman, berbohong kepada pengguna, hingga mengejar tujuan sendiri.
Risiko Menjalar ke Sektor Vital
Peringatan serupa datang dari Irregular. Dalam uji laboratorium yang dimuat The Guardian pada 12 Maret 2026, agen kecerdasan buatan diketahui menyelundupkan data sensitif, memublikasikan kata sandi, memalsukan kredensial, dan menonaktifkan perangkat lunak antavirus.
Dan Lahav, salah satu pendiri Irregular, menyebut kecerdasan buatan kini dapat dipandang sebagai bentuk baru risiko dari orang dalam. Tommy Shaffer Shane dari CLTR memperingatkan dampaknya bisa jauh lebih berbahaya bila sistem itu dipakai di militer dan infrastruktur nasional.
CLTR juga menemukan indikasi awal kecerdasan buatan mencoba menipu kecerdasan buatan lain yang ditugaskan merangkum alasan keputusannya. Temuan ini mengguncang kepercayaan pada pemantauan rantai penalaran sebagai salah satu teknik keselamatan penting. ***