Krisis BBM melanda SPBU asing di Indonesia. Pemerintah pun menyiapkan solusi cepat bersama Pertamina.
__________
Sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) asing di Indonesia seperti Shell, BP-AKR, dan Vivo kehabisan stok bensin non-subsidi. Fenomena ini memicu keluhan konsumen sekaligus kekhawatiran bisnis, mengingat beberapa SPBU bahkan terpaksa mengurangi jam operasional dan merumahkan pekerjanya.
Stok BBM Seret
Shell Indonesia mengumumkan bahwa produk bensin Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ tidak tersedia di sejumlah SPBU hingga batas waktu yang belum bisa dipastikan.
“Shell Indonesia ingin menginformasikan bahwa produk BBM tersebut tidak tersedia … namun layanan lain seperti Shell V-Power Diesel tetap ada,” demikian tulis keterangan resmi Shell (29/8), yang terdistribusikan ke berbagai media.
Nasib serupa dialami BP-AKR. Presiden Direktur Vandra Laura mengakui bahwa stok produk mereka “tidak lengkap” sejak pertengahan September. Kondisi ini membuat sebagian konsumen berpindah ke Pertamina.
Lonjakan Permintaan dan Kuota Impor
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebut, kelangkaan terjadi karena pergeseran konsumsi dari BBM bersubsidi ke non-subsidi yang dijual di SPBU swasta. Akibatnya, kuota impor yang dialokasikan untuk tahun ini jebol.
“Kuotanya itu 110 persen dibandingkan tahun lalu. Artinya semuanya dapat,” ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (17/9).
Sementara itu, data terbaru mencatat, SPBU swasta sudah menggunakan lebih dari 110 persen kuota impor tahunan, namun masih ada kekurangan sekitar 1,4 juta kiloliter untuk menutup kebutuhan hingga akhir 2025.





