Kelompok advokasi korban menilai langkah tersebut reaktif dan tidak menghapus dampak yang sudah terlanjur terjadi.
Transparansi dan Kabut Disinformasi
Sejumlah media, termasuk The Guardian dan The Washington Post, menyoroti bahwa rilis dokumen mentah berskala masif menciptakan kabut informasi. Perhatian publik bergeser dari pertanyaan substantif—siapa yang memfasilitasi kejahatan Epstein dan mengapa penegakan hukum gagal—menjadi perburuan daftar nama tanpa makna hukum.
Fenomena ini berpotensi melahirkan korban baru disinformasi dan merusak kepercayaan publik terhadap mekanisme transparansi negara.
Korban Kembali Jadi Korban
Berdasarkan data yang tersedia, pihak yang paling dirugikan oleh terbukanya Epstein Files adalah para korban dan penyintas kekerasan seksual itu sendiri. Mereka menghadapi risiko berlapis: kebocoran identitas, ancaman fisik, tekanan psikologis, serta hilangnya kendali atas narasi hidup mereka.
Di lapis berikutnya, individu yang hanya disebut dalam dokumen tanpa dakwaan juga terdampak oleh distorsi informasi. Kasus ini menjadi pengingat bahwa transparansi tanpa perlindungan korban berpotensi berubah menjadi kekerasan kedua—terutama di era algoritma media sosial dan konsumsi dokumen tanpa konteks hukum.***





