- Tasyahud
Tasyahud akhir hukumnya wajib, sehingga tidak boleh ditinggalkan. Sedangkan tasyahud awal, bagi shalat yang lebih dari 2 raka’at, hukumnya sunnah, sehingga bisa ditinggalkan—tetapi disunnahkan sujud sahwi, baik ditinggalkan karena lupa maupun sengaja.
Tasyahud dibaca secara sir (lirih) berdasarkan ijmak kaum muslimin. Shalat tarawih dikerjakan dengan 2 raka’at satu kali salam. Artinya, hanya ada tasyahud akhir.
Terdapat banyak versi bacaan tasyahud sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits. Menurut Imam Al-Baihaqi yang kuat dan mantap (tsabit) dari Rasulullah Saw. ada tiga hadits: hadits Ibnu Ma’sud, Ibnu ‘Abbas dan Abu Musa al-Asy’ari. Ulama lainnya mengatakan bahwa ketiganya sahih, dan yang paling sahih hadits Ibnu Mas’ud.
Imam al-Nawawi mengatakan, boleh memakai tasyahud yang mana saja, sebagaimana nash Imam Syafi’i dan ulama lainnya. Namun, menurut Imam Syafi’i, yang paling utama atau afdhal adalah hadits Ibnu ‘Abbas, karena ada tambahan lafadh al-Mubarakatu (المُبارَكاتُ).
Berikut teks tasyahud:
- Riwayat Ibnu Mas’ud: “Attahiyyatu Lillah washalaawatu Wathayyibaat, Assalamu ‘Alaika Ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh, Assalamu ‘Alaina wa’ala ‘Ibadillahi as-Shalihin, Asyhadu an Laailaaha Illallah Waasyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu Warasuluh“.
- Riwayat Ibnu ‘Abbas : “Attahiyyatul Mubarakat Asshalawatu at-Thayyibatu Lillahi, Assalamu ‘Alaika Ayyuhan Nabiyyu Warahmatullahi Wabarakatuh, Assalamu ‘Alaina wa’ala ‘Ibadillahi as-Shalihin, Asyhadu an Laailaaha Illallah waanna Muhammadan Rasulullah”.
- Riwayat Abu Musa al-Asy’ari : “Attahiyyatu at-Thayyibatu As-Shalawatu Lillahi Assalamu ‘Alaika Ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh, Assalamu ‘Alaina wa’ala ‘Ibaadillahi as-Shalihin, Asyhadu an Laailaaha Illallah waanna Muhammadan ‘Abduhu Warasuluhu”.
Dibolehkan juga membuang bagian dar tasyahud. Dalam hal ini, ada beberapa rincian, bahwa lafaz al-Mubarakatu, al-Shalawatu, al-Thayyibatu, dan al-Zakiyyatu hukumnya sunnah, bukan syarat daripada tasyahud.
Seandainya pun membuang semuanya lalu mempersingkatnya menjadi At-Tahiyyatu Lillahi Assalamu’alaika Ayyuhannabiyyu… dan seterusnya, maka hukumnya boleh. Dalam hal ini, tidak ada perbedaan di dalam madzhab Syafi’iyah.
Sedangkan lafadh Assalamu’alaika Ayyuhannabiyyu .. dan seterusnya, wajib dibaca semuanya. Tetapi, dalam ini pun masih ada pengecualian, yaitu pada lafaz Wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Terkait lafaz Warahmatullahi Wabarakatuh, tentang boleh tidaknya membuang lafaz tersebut, ada tiga pendapat.
Pertama, pendapat yang paling sahih adalah tidak boleh membuang satu pun dari lafaz tersebut.
Kedua, boleh membuang dua lafaz tersebut.
Ketiga, boleh membuang lafadh wa Barakatuh, tetapi tidak boleh membuang lafadh Wa Rahmatullah.
Ada ulama Syafiiyyah yang mengatakan bahwa boleh mempersingkat tasyahud dengan, semisal, lafaz Attahiyyatu Lillah Salamun ‘Alaika Ayyuha an-Nabiyyu, Salamun ‘ala ‘Ibadillahissalihin, Asyhadu an Laailaaha Illallah wa Anna Muhammadan Rasululullah.





