Senat AS kembali gagal membatasi wewenang Presiden Donald Trump untuk berperang dengan Iran di tengah ancaman blokade laut dan berakhirnya masa gencatan senjata pekan depan.
Upaya legislatif untuk mengekang otoritas militer Presiden Donald Trump terhadap Iran kandas untuk keempat kalinya di Senat Amerika Serikat. Resolusi tersebut gagal setelah pemungutan suara menunjukkan hasil 47-52, yang sebagian besar mengikuti garis kekuatan partai di parlemen.
Kegagalan ini terjadi hanya sepekan setelah Washington dan Teheran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu. Meskipun pembicaraan lanjutan di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan kesepakatan permanen, kedua belah pihak menyatakan tetap membuka ruang untuk perundingan putaran kedua.
Debat Konstitusi dan Transparansi Perang
Para pendukung resolusi berpendapat bahwa Trump telah bertindak di luar wewenang konstitusional saat meluncurkan serangan bersama Israel pada 28 Februari lalu. Sesuai undang-undang, keputusan untuk menyatakan perang berada di tangan Kongres, kecuali dalam situasi pembelaan diri yang mendesak.
“Kita tidak boleh mengabaikan betapa luar biasanya kepemimpinan Partai Republik di Senat yang menolak melakukan pengawasan terhadap perang yang menelan biaya miliaran USD setiap minggu,” ujar Chris Murphy, Senator AS, Rabu (15/4/2026), dikutip dari Al Jazeera.
Murphy juga menyoroti dampak ekonomi global yang mulai merosot serta hilangnya belasan nyawa tentara Amerika. Namun, pihak pendukung Trump bersikeras bahwa presiden memiliki hak dan kewajiban untuk mempertahankan keamanan nasional dari ancaman yang diklaim berasal dari aktivitas Teheran sejak tahun 1979.
Ancaman Blokade Laut di Selat Hormuz
Ketegangan di lapangan tetap tinggi seiring dengan berlanjutnya blokade laut oleh militer Amerika Serikat. Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan bahwa tidak ada kapal yang berhasil menembus pencegatan di Selat Hormuz dalam 48 jam terakhir, dengan sembilan kapal diperintahkan untuk berputar balik.
Pihak Iran memperingatkan bahwa tindakan provokatif tersebut dapat mengakhiri jeda pertempuran yang sedang berlangsung. Jika Amerika Serikat terus membatasi kapal komersial dan tanker minyak Iran, stabilitas keamanan di kawasan diprediksi akan kembali runtuh dalam waktu dekat.





