Aksi massa di Jakarta menargetkan Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya. Dari mobil mewah diarak, rumah diobrak-abrik, hingga kucing hilang.
__________
Gelombang amarah rakyat pecah di penghujung Agustus. Kritik terhadap gaya hidup dan ucapan wakil rakyat yang dianggap pongah berubah jadi aksi massa.
Tiga tokoh publik — Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya — jadi sasaran. Rumah mereka digeruduk, dirusak, hingga dijarah.
Pemicunya berlapis. Publik masih panas oleh kondisi ekonomi yang sulit. Di saat yang sama, rekaman Uya dan Eko berjoget di Sidang Tahunan MPR, 15 Agustus, viral. Netizen menyebut aksi itu tidak berempati pada rakyat.
Situasi makin menyala setelah Ahmad Sahroni menyebut wacana pembubaran DPR sebagai “ide orang tolol sedunia” saat kunjungan ke Polda Sumut, 22 Agustus. Ucapan itu dipandang merendahkan.
Sabtu, 30 Agustus, titik ledak terjadi. Ratusan orang mengepung rumah Sahroni di Tanjung Priok. Rekaman TikTok memperlihatkan massa menyerbu pagar, mengacak-acak halaman, hingga mengarak Porsche mewah milik legislator NasDem itu.
“Ratusan massa yang marah menggeruduk rumahnya, merusak fasilitas, hingga mengarak mobil mewah Porsche,” demikian dilaporkan tvOne, 30 Agustus 2025. Mobil itu sempat hendak dibakar, tapi akhirnya hanya digulingkan dan dipreteli.
Tak berhenti di sana. Gelombang amarah bergerak ke rumah Eko Patrio di Jakarta Selatan.
Video penjarahan beredar Ahad pagi. Massa terlihat keluar-masuk rumah, membawa barang.
Kapolres Metro Jaksel Kombes Nicolas Ary Lilipaly membenarkan. “Iya benar. Sudah (kondusif),” katanya, 30 Agustus. Aparat gabungan TNI–Polri kemudian menjaga lokasi.
Malamnya giliran rumah Uya Kuya di Duren Sawit. Rumah rusak, barang hilang, bahkan kucing peliharaan raib. Uya bicara dengan nada pasrah. “Iya, intinya aku ikhlas saja… cuma yang sedih kucing-kucing mahluk hidup juga dijarah… Insyaallah aman,” ujarnya kepada detikcom, 30 Agustus.
Kini, kondisi di tiga titik disebut aman. Namun luka sosialnya terbuka lebar. Aksi joget di sidang, pernyataan kasar, dan tunjangan DPR yang membengkak telah menjelma simbol jurang antara elit dan rakyat. Penjarahan ini menjadi potret ekstrem betapa tipisnya jarak antara ketidakpuasan dan ledakan massa.
Fisik rumah mungkin bisa dipulihkan. Tapi yang dituntut publik lebih besar: kesadaran, empati, dan tanggung jawab moral dari para wakil rakyat. Tanpa itu, keretakan kepercayaan akan terus melebar.***





