Di tengah gempuran arus modernisasi dan pengaruh budaya asing, Rizki Rahma, seorang dalang perempuan dari Yogyakarta, memperkenalkan ‘Wayang Sinema’. Pertunjukan wayang yang menyerupai sinema atau film, tetapi disajikan dalam format wayang, yang menggabungkan keindahan seni pewayangan dengan teknologi digital.
__________
Menurut Rahma, seni tradisional Indonesia harus tetap bertahan dan berkembang di tengah terpaan budaya asing. Melalui dia, tradisi diwarisi sekaligus dihidupkan kembali lewat inovasi digital dan semangat baru pertunjukan seni.
“Saya mulai berpikir, kalau tidak ada yang meneruskan, takutnya nanti wayang kulit malah diklaim orang luar. Kita sendiri yang susah mempelajarinya,” ujarnya, saat diwawancarai wartawan, Selasa, 15 April 2025.
Rahma mengaku, menjadi dalang wanita bukan hal umum. Apalagi dalam budaya pewayangan di dominasi laki-laki.
Namun, seiring berjalannya waktu, ia terus maju menembus batas persepsi umum itu. Ia tak hanya tampil secara langsung, tetapi mulai memanfaatkan media sosial dan platform digital.
Pementasannya kini bisa disaksikan ulang melalui rekaman video yang diunggah ke YouTube dan media sosial lain. Ia juga mengenalkan wayang sinema, pertunjukan kolaboratif modern melibatkan banyak dalang dengan dukungan LED dan pencahayaan teaterikal.
“Wayang sinema ini seperti sinema atau film, tapi dalam bentuk wayang. Kolaboratif dan lebih modern,” ujarnya.
Menurut Rahma, metabolisme kreatif ini adalah bentuk adaptasi yang wajar dan perlu dalam dunia kesenian. Ia sendiri masih aktif tampil secara live dan menyasar audiens dari berbagai kalangan, termasuk anak-anak.
Dengan memadukan cinta seni tradisional dan teknologi modern, ia membuktikan wayang tetap relevan sepanjang zaman. Dengan tangan-tangan muda sepertinya, seni tradisi Indonesia menemukan napas baru di tengah era digital.
Rahma bercita-cita ingin terus mencurahkan pikirannya tentang pentingnya melestarikan wayang kulit. Ia mengungkapkan kekhawatirannya bahwa, jika tidak ada generasi penerus, bentuk seni ini bisa saja diklaim oleh pihak luar.
Ia menekankan bahwa tantangan ini menjadi dorongan baginya untuk memperdalam pemahaman dan keterampilan dalam seni pewayangan, sehingga tidak hanya orang lain yang mempelajari, tetapi masyarakat lokal juga memiliki akses dan apresiasi terhadap budaya mereka sendiri.
Rahma percaya bahwa seni harus mampu berkembang seiring dengan perubahan zaman, tanpa kehilangan esensi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Dengan tetap aktif tampil secara langsung, Rahma menjangkau audiens dari berbagai latar belakang, dan ia merasa bahagia ketika melihat anak-anak tertarik dan terinspirasi oleh seni tradisional ini.
Dia percaya bahwa seni memiliki kekuatan untuk merangkul, menyatukan, dan menginspirasi, serta menjadi jembatan antara generasi yang berbeda. ***





