Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperbarui Rapor Pendidikan dengan memuat Data Capaian Mutu Layanan Pendidikan Tahun 2025 serta menambahkan tiga indikator baru untuk memperkuat perencanaan berbasis bukti di satuan pendidikan dan pemerintah daerah.
Pembaruan ini menghadirkan potret mutu layanan pendidikan secara komprehensif, mencakup capaian hasil belajar, kualitas proses dan lingkungan belajar, serta indikator pendukung peningkatan mutu berkelanjutan.
Tiga Indikator Baru yang Diperkenalkan
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Kemendikdasmen Toni Toharudin menyatakan pembaruan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya refleksi dan pengambilan keputusan berbasis bukti.
“Rapor Pendidikan yang telah diperbarui dengan Data Capaian Mutu Layanan Pendidikan Tahun 2025 memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai posisi capaian setiap satuan pendidikan dan daerah. Data ini harus dimanfaatkan sebagai fondasi dalam menyusun perencanaan dan prioritas intervensi yang sistematis dan berkelanjutan,” ujarnya, Kamis (26/3).
Tiga indikator baru yang diperkenalkan:
- 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat – untuk memperkuat penguatan karakter murid
- Ketersediaan Buku Pendidikan – memastikan kecukupan sumber belajar
- Kesiapsiagaan Bencana dan Perubahan Iklim – memastikan kesiapan satuan pendidikan menghadapi risiko bencana
Rapor Pendidikan Bukan Alat Pembanding
Toni menekankan bahwa Rapor Pendidikan tidak dimaksudkan sebagai alat pembanding antar sekolah, melainkan instrumen refleksi internal yang membantu satuan pendidikan mengenali kekuatan sekaligus area yang perlu diperbaiki.
Konsistensi pemanfaatan data dalam setiap siklus perencanaan, menurutnya, akan mempercepat transformasi pembelajaran dan meningkatkan akuntabilitas kebijakan pendidikan di tingkat daerah.
Penguatan Makna Mutu Pendidikan
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menyampaikan bahwa penambahan indikator ini mencerminkan penguatan makna mutu pendidikan secara lebih utuh.
“Pendidikan bermutu tidak hanya soal capaian akademik, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan karakter serta kesiapan anak menghadapi masa depan. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman serta mampu menumbuhkan karakter dan kebiasaan positif,” ujar Suharti.





