Raden Patah (3): Mereformasi Wayang, Membangun Fondasi Ekonomi dengan Koin Beraksara Pegon

Menurut Ki Siswoharsojo dalam Guna Cara Agama, pada masa Kerajaan Demak, untuk memeriahkan Maulid Nabi, tujuh hari sebelumnya para bupati dan abdi dalem atau pegawai keraton yang menangani bisang agama dipanggil ke istana. Para abdi dalem dalam bidang keagamaan itu—yang umumnya disebut penghulu dan juru suronoto—disuruh zikiran di masjid sambil memberikan penerangan mengenai agama kepada rakyat. Setelah itu mereka diinstruksikan memberikan tuntutan mengucapkan dua kalimat syahadat kepada rakyat yang berduyung-duyun membajiri masjid karena ingin melihat atau mendengarkan gamelan masjid.

Sebagai alat untuk menarik animo masyarakat, para abdi dalem itu mengusung gamelan besar dari istana menuju Masjid Demak selepas Isya, dan selama perjalanan dari istana ke masjid, gamelan tersebut terus menerus dibunyikan, lalu diletakkan di Bangsal Sri Manganti Masjid Demak.

Bacaan Lainnya

Selama berada di bangsal, gamelan tersebut terus dibunyikan, siang dan malam. Siang mulai pagi sampai Zuhur, malam mulai selepas Isya sampai tengah malam. Rakyat yang mendengar bunyi-bunyian itu pun tertarik dan pada berbodong-bondong datang ke halaman masjid. Dan sambil menunggu bagian makanan yang disediakan oleh panitia acara, mereka mendapatkan penerangan mengenai ajaran Agama Islam dan riwayat Nabi Muhammad Saw. yang disampaikan oleh para abdi dalem.

Setelah mendapatkan penerangan, mereka mendapatkan pembagian makanan berupa nasi yang sebelumnya telah dibacakan doa, lalu makan Bersama. Mereka yang tertarik pada ajaran Islam dituntun mambaca dua kalimat syahadat, sebagai pernyataan masuk Islam. Kegiatan tersebut berlangsung selama tujuh hari sampai jatuh Hari Maulid Nabi.

Hari terakhir rangkaian acara pada 12 Rabiul Awwal adalah puncak keramaian. Mulai pagi, Raden Patah—yang dijuliki Sri Sultan Alam Akbar, sebagai khalifah umat Islam—duduk bersila di hadapan para patih, hulubalang, dan pejabat-pejabat tinggi. Nasi tumpeng besar berisi nasi dan lauk pauknya—yang disebut gunungan ambeng—dibawa dari istana menuju masjid sebagai hidangan selamatan yang diselenggarakan oleh raja.

Menjelang shalat Zuhur, Raden Patah dengan diiringi seluruh pejabat tinggi negara dan hulubalang turun dari istana,berjalan kaki menuju Masjid Agung Demak. Raden Patah menjadi imam shalat Zuhur dan para abdi dalem menjadi makmum.

Sesudah shalat Zuhur dan pembacaan doa oleh penghulu, acara selamatan digelar dengan makan bersama rakyat. Acara ditutup dengan berbagai bunyi-bunyian—seperti bunyi tambur, terompet, gamelan, dan sejata prajurit—kemudian bubar. Tradisi yang dimulai sejak era kekuasaan Demak ini dilanjutkan pada masa Kerajaan Pajang, bersambung hinggaMataram, dan sampai sekarang juga masih menjadi tradisi di Surakarta dan Yogyakarta.

Kerajaan Demak juga merupakan kerajaan maritim yang berpengaruh dan disegani. Ditemukan rekaman gambar salah satu kapal junk (jong) raksasa Kesultanan Demak yang dilukis pelukis Belanda di perairan Laut Jawa di tahun 1590-an. Lukisan tersebut dipublikasikan dalam buku van Lichosten berjudul Itinerario, yang terbit pada tahun 1596. Kapal ini disebut berlayar hingga ke China. Kapal raksasa tersebut pernah dipakai dalam ekspedisi Demak ketika menyerang Malaka yang waktu itu dikuasai Portugis.

Menurut catatan Tome Pires, kapal Demak di Malaka tahun 1512 bisa memuat 1000-an orang. Pangkalan kapal-kapal tersebut berada di Pelabuhan Jepara dan Tuban. Sementara penulis Pramoedya Ananta Toer pernah menyinggungnya dalam novelnya, Arus Balik, bahwa sebuah ide besar dimulai dari kapal besar. Nusantara dulu bisa besar karena punya kapal besar, membawa ide-ide dan manusia-manusia Nusantara ke seluruh penjuru dunia.

Gagasan dalam Arus Balik itulah yang dibuktikan Kerajaan Demak, di mana kerajaan ini mampu memproduksi kapal besar, idenya pun juga besar dan berpengaruh. Karena punya kapal besar, Demak bisa berkarya untuk dunia, membawa arus peradaban ke luar, bukan malah terseret arus dari luar.

Di masa kejayaan Kerajaan Demak sebagai kekuatan maritim Nusantara, mereka selalu memasang dua bendera atau rayah di kapal-kapal mereka. Fakta sejarah tersebut dilukiskan oleh pelaut Belanda di tahun 1596. Satu bendera berwarna merah, sementara satunya lagi hijau keabu-abuan dengan simbol bulan sabit dan bintang enam kembar. Itulah simbol Kesultanan Islam Nusantara. Menurut sejarawan Ahmad Baso, warna kedua bendera tersebut menunjukkan karakter kenusantaraan—yang kemudian bertransformasi menjadi Merah-Putih, melambangkan perpaduan antara abangan (Jawa) dan putihan (Islam).

Pos terkait