Mengenal Pesantren Pluralis-Multikultural yang Dibangun di Kediri

Acara peletakan batu pertama ini juga diisi dengan diskusi dengan narasumber Komisaris Besar Polisi Langgeng Purnomo, Karo SDM Polda Metro Jaya sekaligus penulis buku Rekonstruksi Nasionalisme  Jatidiri Bangsa Merajut Nusantara Menuju Perdamaian Dunia;  dan Edi Setiawan, penulis buku  Jatidiri Bangsa. Selain itu juga hadir Haryo Sumatri, juga penulis buku Jatidiri Bangsa; dan Soenarto Sardiatmoadja, penulis buku Kiai Moch. Muchtar Mu’thi Syech Muchtarulloh Al-Mujtaba Sang Pejuang Islam Rohmatan Lil’alamin dan Pejuang Cinta Tanah Air Indonesia.

Alasan Pesantren Dibangun di Kediri

Pesantren Pluralis Multikultural ini dibangun di Kediri bukan tanpa alasan. Sebagaimana diterangkan oleh Kushartono, kata “Kediri” memiliki arti “kembali ke diri sendiri”.

Proses pembangunan Pesantren Jatidiri Bangsa Indonesia Merajut Perdamaian Nusantara” di Situs Bung Karno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. (Dok. SF)

“Suatu perjalanan mengolah kembali matahati. Matahati adalah mata yang terdapat di dalam hati. Matahati yang sehat adalah di mana seseorang bisa melihat keagungan Gusti Allah dan alam semesta. Mengolah matahati adalah upaya secara batin untuk bisa mendekatkan hati dengan esensi sang Maha Pencipta. Dalam bahasa Jawa Jumenengan, kata “Kediri” berasal dari kata “diri” yang berarti adeg, angdhiri, menghadiri, atau menjadi raja,” papar Kushartono.

Bacaan Lainnya

Kediri, Kushartono menambahkan, juga bisa berarti “mandiri” atau “berdiri tegak”, berkepribadian, atau berswasembada. Perjalanan ke diri adalah jejak langkah mengasah matahati. Dengan matahati yang terasah itulah, menurut Kushartono, Bangsa Indonesia bisa mengenali dan kembali kepada jatidirinya.

(Wijdan)

Pos terkait