Janji Hanya Tinggal Janji
Fakta politik terkait isi Perjanjian Batu Tulis yang kemudian berlangsung tidak pernah berpihak kepada Prabowo. Sejarah politik negara ini merekam bahwa Megawati tidak pernah memenuhi janjinya. Bukannya menyokong, Megawati dan PDIP malah mengajak Prabowo head to head, ketika partai banteng mengusung Gubernur DKI Joko Widodo alias Jokowi sebagai capres pada tahun 2014.
Pada Pilpres 2019, Megawati juga masih memilih menjadi rival politik Prabowo–alih-alih membayar utang janjinya—dengan kembali menunjuk Jokowi.

Dan isu Perjanjian Batu Tulis sempat kembali mengemuka menjelang dimulainya rangkaian agenda perhelatan Pemilu 2024.
Pada Januari 2022, Direktur Eksekutif Institute for Democracy & Strategic Affairs (IndoStrategic) A. Khoirul Umam pernah memprediksi Prabowo Subianto dan Puan Maharani akan berkoalisi sebagai pasangan Capres dan Cawapres pada Pilpres 2024. Pasalnya, menurut Umam, Pilpres 2024 menjadi kesempatan terakhir bagi Ketua Umum PDI Perjuangan itu untuk memenuhi janjinya, sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Batu Tulis.
“Sebagai politisi senior, Megawati tentu sadar bahwa martabat seorang politisi salah satunya terletak pada aspek kepercayaan (trust),” kata Umam dalam pernyataan tertulisnya, Senin, 10 Januari 2022.
Namun, prediksi itu tak pernah terbukti. Megawati tak pernah mendekat ke Prabowo menjelang kontestasi 2024. Malah Jokowi yang diam-diam ‘memprospek’ Prabowo.
Megawati menunjuk Ganjar Pranowo, yang sebelumnya sempat digadang-gadang jadi wakil Prabowo dalam skenario Jokowi. Ganjar didaulat PDIP sebagai Capres 2024 pada Jumat, 21 April 2023–sehari menjelang Lebaran Idul Fitri 2023. Mega mengaku telah berdiskusi dengan banyak pihak—katanya termasuk dengan Jokowi—sebelum menunjuk Ganjar.
Mega tampaknya belum berniat ‘bayar utang janji’ ke Prabowo untuk ketiga kalinya. Makin jelaslah bahwa Perjanjian Batu Tulis benar-benar dibikin hanya untuk ‘prank’.

Sementara di sisi lain, Jokowi—yang oleh banyak pihak disebut memberikan dukungan untuk Prabowo–mulai menjalankan taktik ‘penyamarannya’ dengan mengeluarkan berbagai statement yang seolah-olah mendukung pencalonan Ganjar.
Dalam suatu kesempatan, Jokowi menyebut beberapa nama yang menurut dia berpeluang mendampingi Ganjar sebagai cawapres–termasuk Prabowo.
“Yang cocok banyak. Ada Pak Erick, Pak Sandiaga Uno, Pak Mahfud MD, Pak Ridwan Kamil, Cak Imin, dan Pak Airlangga,” kata Jokowi, usai salat Idul Fitri di Solo, Sabtu, 22 April 2023.
Saat ditanya peluang Menteri Pertahanan Prabowo Subianto sebagai wakil Ganjar, Jokowi juga mengiyakan. “Nah, iya, Pak Prabowo nanti juga segera saya ketemu,” kata Jokowi.
Pernyataan Jokowi itu seolah-olah mengisyaratkan bahwa dia mendukung Ganjar yang dicalonkan Megawati dan PDIP, dengan hanya berbicara soal cawapres, bukan capres. Karena capresnya sudah ada: Ganjar Pranowo.
Sementara, setelah bertemu dengan Jokowi, Prabowo menegaskan jika dia ogah jadi cawapres. Pasalnya, dia diusung oleh partainya sebagai Capres. Menurut dia, Partai Gerindra sudah cukup kuat menjagokannya sebagai capres.
“Partai saya mencalonkan saya sebagai Capres, dan partai saya agak kuat juga sekarang,” ucap Prabowo, usai bertemu Jokowi di kediaman Presiden, di Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu siang, 22 April 2023—sehari setelah Megawati mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai Capres PDIP. Pernyataan itu terlontar setelah Prabowo berhalalbihalal dengan keluarga Presiden Jokowi dan dijamu di Solo.
Pernyatan-pernyataan Jokowi dan Prabowo di depan publik yang seolah-olah “tidak sejalan”, barangkali juga merupakan ‘prank’. Seolah-olah Jokowi tetap berada di pihak ‘Ibu’ dengan mendukung Ganjar, sementara Prabowo kembali menjadi rivalnya, namun dalam konteks yang berbeda.
Maka dari itulah barangkali Megawati agak syok juga ketika menjelang kontestasi ternyata Jokowi tidak sedang bersamanya. Jokowi malah cenderung ke rival politik yang sudah kena hattrick prank-nya, dengan mengajukan Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres.

Dan barangkali juga yang jauh lebih menyakitkan Bu Mega adalah: Prabowo menang. Dia kalah. Padahal dia sudah sangat pede, dengan terus menarasikan kemenangan satu putaran untuk Ganjar Pranowo-Mahfud MD di masa-masa kampanye.
Mungkin sudah waktunya Bu Mega juga merasakan tak enaknya kena prank.
Apa boleh dikata: tidak ada yang pasti dalam politik. Tak ada makan siang gratis dalam dunia politik. Karena, barangkali kata Prabowo, makan siang gratis hanya untuk anak-anak sekolah.◼︎






