Umat Kristiani di Indonesia merayakan Paskah 2026 dengan ragam ritual adat unik, mulai dari Semana Santa hingga tradisi Buha-Buha Ijuk.
Perayaan Paskah pada Minggu (5/4/2026) berlangsung khidmat di seluruh penjuru tanah air. Momen kebangkitan Yesus Kristus ini tidak hanya diwarnai ibadah gereja, melainkan juga kearifan lokal yang terjaga selama berabad-abad.
Di Flores Timur, masyarakat menggelar Semana Santa atau Pekan Suci. Tradisi peninggalan Portugis ini melibatkan arak-arakan patung Tuan Ma yang menarik ribuan wisatawan untuk berziarah ke kapel sakral di wilayah NTT tersebut.
NTT juga memiliki ritual Kure di Kota Noemuti. Umat Katolik melakukan perjalanan spiritual dari rumah ke rumah untuk merenungkan sengsara Kristus, diakhiri dengan persembahan hasil bumi yang penuh makna bagi para peziarah dan kelompok doa.
Refleksi Fisik dan Spiritual
Warga memadati Bukit Doa Getsemani untuk mengikuti prosesi Jalan Salib. Medan setapak menuju puncak bukit dihiasi 14 perhentian patung sengsara Yesus, menciptakan suasana refleksi spiritual yang sangat mendalam.
Hal serupa terjadi di Wonogiri, Jawa Tengah. Umat setempat memikul salib besar sejauh tiga kilometer menuju puncak Gunung Gandul. Aksi ini menjadi simbol fisik atas penderitaan Yesus saat memikul salib menuju Bukit Golgota di Yerusalem.
Penghormatan di Pusara Keluarga
Kalimantan Tengah memiliki tradisi Memento Mori yang dilakukan pada Sabtu Suci. Keluarga berkumpul di makam untuk menyalakan lilin dan berdoa sepanjang malam hingga fajar Paskah menyingsing sebagai pengingat akan kefanaan hidup manusia.
Di Sumatera Utara, ritual serupa dikenal dengan nama Buha-Buha Ijuk. Begitu lonceng gereja berbunyi pada Minggu subuh, warga langsung menuju makam keluarga untuk berdoa sebelum bersama-sama mengikuti ibadah Paskah di gereja.
Terakhir, Gua Maria Lourdes di Puhsarang, Kediri, menjadi magnet bagi para peziarah. Selain Misa Paskah, banyak umat menyaksikan drama kolosal Jalan Salib yang menggambarkan pengorbanan suci sang juru selamat bagi manusia.***




