Lebih dari 45 ribu orang telah tewas akibat serangan ini, dan sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Di Bethlehem, meski tanpa dekorasi atau pohon Natal, para jemaat tetap berkumpul untuk berdoa dan mengingatkan dunia akan penderitaan yang dialami oleh bangsa Palestina.
“Saya melihat kehancuran, kemiskinan, dan bencana. Namun saya juga melihat kehidupan – mereka tidak menyerah. Jadi, kita pun tidak boleh menyerah,” kata Uskup Agung Pierbattista Pizzaballa, yang baru saja kembali dari Gaza.
Wali Kota Bethlehem, Anton Salman, menegaskan bahwa pesan dari Bethlehem selalu mengenai perdamaian dan harapan, meskipun dalam situasi yang sangat sulit ini. “Kami juga mengirimkan pesan kepada dunia: perdamaian dan harapan, tetapi juga menegaskan bahwa dunia harus berusaha untuk mengakhiri penderitaan kami sebagai rakyat Palestina,” tambahnya.***