Merdeka 100 Persen! — Peringatan Tan Malaka Itu Masih Menggema hingga Kini

ILUSTRASI. - Samudrafakta
Peringatan tajam Tan Malaka pada Sukarno-Hatta yang masih relevan hingga kini.

__Editorial

Pada malam 24 Januari 1946, di kediaman Sukarno, Pegangsaan Timur, Jakarta, berlangsung sebuah pertemuan rahasia. Sukarno, Hatta, Sjahrir, dan Agus Salim sedang membicarakan arah pemerintahan muda Republik Indonesia yang baru berusia lima bulan.

Di tengah rapat itu, Tan Malaka muncul tanpa undangan. Kehadirannya sontak mengubah suasana.

Ia tak basa-basi. Dengan suara lantang ia menegur para sahabatnya yang tengah memegang tampuk kekuasaan. “Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah seratus persen,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Tan menuding bahwa kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945 hanya melahirkan elite baru yang menikmati posisi sebagai borjuis dan ambtenaar. “Kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat,” katanya lagi, sebagaimana dicatat dalam tulisannya Muslihat, Politik, dan Rencana Ekonomi Berjuang.

Sebagaimana banyak dicatat dalam dokumentasi sejarah, demikian pernyataan lengkap Tan Malaka:

“Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan?

Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar.

Hari ini aku datang kepadamu, wahai Soekarno sahabatku…..

Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen.

Hari ini aku masih melihat bahwa kemerdekaan hanyalah milik kaum elit, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka-cita menjadi ambtenaar…..

Kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat. Kita mengalami perjalanan yang salah tentang arti merdeka, dan apabila kalian tidak segera memperbaikinya, maka sampai kapan pun bangsa ini tidak akan pernah merdeka!

Hanya para pemimpinnya yang akan mengalami kemerdekaan, karena hanya mereka adil makmur itu dirasakan. Dengarlah perlawananku ini…..

Karena apabila kalian tetap bersikap seperti ini, maka inilah hari terakhir aku datang sebagai seorang sahabat dan saudara. Esok, adalah hari di mana aku akan menjelma menjadi musuh kalian, karena aku akan tetap berjuang untuk merdeka 100 persen.”

Kritik itu menusuk, hingga membuat Sukarno bereaksi keras. “Kata-katanya sungguh menghinaku, meremehkan semangat kerakyatanku,” ungkap Bung Karno. Namun Tan Malaka tidak bergeming. Baginya, kemerdekaan bukan sekadar pergantian bendera atau jabatan, melainkan pembebasan penuh dari segala bentuk penindasan. Ia menghendaki revolusi total: tanah untuk rakyat, ekonomi berdikari, pendidikan merata, dan pemerintahan yang berpihak pada kaum kecil.

Pos terkait