Marak Gen Z Lari ke Tarot Saat Gelisah, Waspada Jebakan ‘Self-Fulfilling Prophecy’

Kartu Tarot
Ilustrasi kartu tarot. - Freepik.com
Saat ini, tak jarang banyak Gen Z yang memilih kartu tarot sebagai salah satu perspektif dalam mengurai rasa gelisah akan hal yang sudah atau belum terjadi.

Generasi Z seringkali dikaitkan dengan ide yang unik. Banyak kegiatan yang dianggap tidak biasa, namun cukup populer di kalangan Generasi Z. Tidak heran, saat ini, topik Generasi (Gen) Z tidak henti-hentinya menjadi perbincangan dan bahan diskusi. Salah satu contohnya adalah hal unik dalam mengelola emosi.

Gen Z seringkali dihadapkan dengan situasi yang memicu depresi. Namun, cara yang ditempuh juga tergolong unik, salah satunya dengan penggunaan kartu tarot. Saat ini, tak jarang banyak Gen Z yang memilih kartu tarot sebagai salah satu perspektif dalam mengurai rasa gelisah akan hal yang sudah atau belum terjadi.

Menanggapi fenomena ini, Psikolog Klinis Unair Dian Kartika Amelia Arbi MPsi memberikan pandangannya dalam perspektif psikologi. Ia menyampaikan bahwa tarot bukanlah suatu hal baru, melainkan sudah ada dari beberapa generasi sebelumnya. Namun, yang menjadi pertanyaan adalah mengapa spesifik pada Gen Z?

“Dari perspektif psikologi, salah satunya itu sebagai salah satu cara individu atau Gen Z, ketika mereka menghadapi sesuatu yang tidak enak, mereka merasa tidak berdaya. Mereka berusaha mencari penjelasan eksternal atas apa yang mereka hadapi saat ini. Jadi hal itu diharapkan memberikan rasa tenang,” jelasnya, dikutip Selasa (3/2/2026).

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, ia menggambarkan bahwa pembacaan tarot dapat memunculkan khayalan atas individu untuk bisa memprediksi atau mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Sehingga, hal tersebut dapat mengurangi kecemasan dan menjadi salah satu coping mechanism pada individu tersebut.

“Misalnya karena mereka menghadapi sesuatu yang tidak bisa mereka prediksi, mereka mengalami kecemasan. Sehingga tarot ini menawarkan sesuatu atau narasi-narasi tentang diri mereka tanpa judgement atau apapun yang bisa dianggap menenangkan,” imbuhnya.

Dosen Fakultas Psikologi Unair itu juga menyampaikan dampak dari penggunaan tarot. “Jika itu dijadikan sebagai pendorong evaluasi yang justru membuat individu itu berkembang, tidak masalah. Tapi ada hal-hal lain yang justru bisa menjadi warning pada diri ketika terlalu mengandalkan pemikiran-pemikiran yang ditawarkan oleh tarot yang menghambat problem solving,” tuturnya.

Pemikiran yang membuat individu tidak berusaha memperbaiki situasi dirinya karena merasa bahwa apa yang terjadi sudah ditakdirkan, dari perspektif psikologi disebut self-fulfilling prophecy. “Jadi bukan ramalan atau prediksi itu yang memang nyata terjadi, tapi memang karena kita sudah meyakini hal itu sebelumnya akan terjadi, sehingga energi kita mengarahkan pada berlaku yang kita prediksi sebelumnya.” ungkapnya.

Dian pun memberikan tips menghadapi stres secara mandiri. Yakni, dengan belajar untuk mengelola stres dengan beberapa cara. Seperti journaling, mengelola waktu, mengonsumsi makanan yang bergizi dan berolahraga secara rutin. Namun, dalam menghadapi krisis emosional, ketika individu tidak mampu menangani sendiri, maka hal terbaik adalah mendatangi psikolog maupun psikiater untuk mendapatkan penanganan secara profesional. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

0 Komentar