Hari Malaria Sedunia 2025 menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa malaria di Indonesia belum sepenuhnya terkendali. Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2024, estimasi kasus malaria nasional mendekati satu juta. Kondisi ini menandakan bahwa upaya eliminasi malaria 2030 masih harus dikejar dengan lebih agresif.
__________
“Tren kasus meningkat dua tahun terakhir. Ini menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan masyarakat Indonesia,” kata Prof. dr. E. Elsa Herdiana Murhandarwati, M.Kes, Ph.D, Guru Besar Parasitologi FK-KMK UGM, Selasa, 29 April 2025.
Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium, ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Nyamuk ini berbeda dengan Aedes aegypti, karena aktif pada malam hingga dini hari. Parasit yang masuk ke aliran darah akan menyerang sel darah merah dan menimbulkan gejala seperti demam berulang, menggigil, nyeri kepala, hingga kelelahan hebat.
Elsa menyebutkan bahwa kasus malaria Papua masih menjadi beban terbesar nasional. “Papua menyumbang 91 persen dari total kasus. Faktor geografis seperti rawa, hutan lebat, genangan air, dan akses kesehatan yang terbatas memperparah situasi,” jelasnya.
Tidak hanya itu, Elsa juga menyoroti wilayah perbatasan sebagai daerah rawan penularan malaria lintas batas. Sebagai respon, Pusat Kedokteran Tropis UGM bersama Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA) melakukan riset di perbatasan Indonesia–Timor Leste.
“Kalau satu negara hampir bebas malaria tapi negara tetangganya belum, bisa muncul ‘kasus impor’. Ini yang kami coba tangani melalui kerja sama lintas negara,” ujarnya.
Hasil riset melahirkan tiga intervensi utama: pembangunan dashboard data lintas batas, penguatan surveilans migrasi, serta pembentukan gugus tugas bersama. Langkah-langkah ini penting agar strategi eliminasi malaria bisa berkelanjutan dan berbasis bukti.
Menurut Elsa, Hari Malaria Sedunia 2025 adalah waktu yang tepat untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, peneliti, dan masyarakat. “Pencegahan malaria lintas batas, deteksi dini, dan edukasi publik menjadi fondasi menuju Indonesia bebas malaria,” pungkasnya.***
