Komnas Haji Gaungkan “Jemaah Jaga Jemaah” Jelang Armuzna

Dr. H. Mustolih Siradj SHI., MH., Ketua Komnas Haji. - ISTIMEWA
Puncak haji di Armuzna resmi dimulai hari ini. Hadapi cuaca ekstrem dan risiko tersesat, jemaah diimbau saling menjaga.

Fase paling krusial dalam penyelenggaraan ibadah haji ini bukan sekadar ujian spiritual, melainkan juga ujian ketahanan fisik yang nyata di lapangan. Mengingat medan yang menantang dan kondisi cuaca yang teramat terik, kewaspadaan serta kepedulian terhadap sesama harus dibangun sejak awal sebelum jemaah benar-benar melebur dalam pusaran lautan manusia.

Pergerakan Raksasa Menuju Padang Arafah

Pergerakan puncak ibadah haji menuju kawasan Armuzna (Arafah, Mina, dan Muzdalifah) resmi bergulir pada hari ini, Senin (25/5/2026) atau bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 H. Jemaah mulai bergerak secara bertahap meninggalkan hotel-hotel mereka di Mekkah menuju Arafah.

Di sana, mereka akan bergabung dengan lebih dari 1,6 juta jemaah dari berbagai penjuru dunia untuk melaksanakan puncak haji, yakni wukuf, pada esok hari (Selasa, 26 Mei 2026 / 9 Dzulhijjah 1447 H).

Bacaan Lainnya

Setelah wukuf, perjalanan spiritual jemaah berlanjut dengan bergeser menuju Muzdalifah untuk mabit (bermalam). Rangkaian ini menyambung dengan pergerakan ke Mina untuk melaksanakan prosesi lontar jumrah di Jamarat. Jemaah akan melempar batu di pilar Aqobah, Ula, dan Wustha dalam rentang waktu 10 hingga 12 Dzulhijjah 1447 H. Di sela-sela padatnya agenda tersebut, tamu-tamu Allah juga harus kembali ke Mekkah untuk menunaikan tawaf Ifadah, sai, dan tahallul.

Ancaman Kelelahan dan Risiko Tersesat di Tengah Lautan Manusia

Agenda yang begitu padat, jarak tempuh yang panjang, serta aktivitas yang simultan membuat ibadah di Armuzna sangat menguras tenaga. Stamina jemaah bisa turun drastis, memicu hilangnya konsentrasi, bahkan jatuh sakit.

Kondisi fisik yang menurun ini berpotensi besar membuat jemaah terpisah dari rombongannya. Risiko tertinggal atau tercerai-berai menjadi ancaman nyata, terutama bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas.

Situasi di Armuzna juga sangat rentan membingungkan pandangan mata. Jutaan orang mengenakan pakaian ihram putih yang identik, berbaur di antara hamparan tenda dengan warna dan bentuk yang seragam. Jemaah kerap kali kesulitan membedakan teman satu rombongan atau menemukan kembali tenda tempat mereka beristirahat di antara lautan tenda jemaah negara lain.

Tantangan ini semakin berat dengan prakiraan cuaca ekstrem. Suhu panas di kawasan tersebut diperkirakan akan melonjak hingga mendekati 50°C.

“Jemaah Jaga Jemaah”: Benteng Utama di Armuzna

Merespons tingginya risiko tersebut, Komisi Nasional (Komnas) Haji menegaskan bahwa kekompakan dan solidaritas antarjemaah adalah kunci utama keselamatan. Jemaah harus saling bahu-membahu (ta’awun) tanpa harus selalu mengandalkan keberadaan petugas yang jumlahnya terbatas.

Ketua Komnas Haji, Mustolih Siradj, memberikan peringatan tegas sekaligus instruksi langsung kepada seluruh elemen jemaah Indonesia.

“Kita menghadapi jutaan lautan manusia dengan pakaian serba putih dan tenda yang identik, ditambah cuaca ekstrem yang bisa mendekati 50 derajat Celsius. Risiko jemaah terpisah sangat tinggi. Oleh karena itu, kita tidak bisa menyerahkan sepenuhnya kepada petugas. Semangat ‘Jemaah Jaga Jemaah’ harus menjadi napas kita selama di Armuzna. Pada titik inilah peran Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) menjadi sangat sentral dan vital untuk memastikan anggotanya tetap utuh,” tegas Mustolih Siradj, kepada Samudrafakta, Senin (25/5/2025).

Melalui penerapan konsep saling peduli dan kepemimpinan Karu serta Karom yang sigap, angka jemaah yang tersesat atau hilang dapat ditekan seminimal mungkin. Di balik beratnya medan dan cuaca, Komnas Haji tetap menaruh optimisme tinggi bahwa puncak pelaksanaan haji di Armuzna tahun ini akan berjalan dengan sukses, aman, dan lancar. ***

 

Pos terkait