Di Timur Tengah, bulan puasa tak hanya tentang menahan lapar, tapi juga tentang kehadiran katayef—hidangan penutup yang mengubah pancake sederhana menjadi sajian eksklusif dengan sentuhan pistachio dan air mawar.
Jika di Indonesia kolak dan es buah menjadi primadona takjil, di negeri-negeri Levant ada katayef. Hidangan ini akrab di Suriah, Palestina, Yordania, Lebanon, hingga Mesir. Bentuknya bulat seperti pancake, tapi nasibnya jauh lebih mewah.
Lukman Santoso, Executive Chef di Surabaya, mengenalnya baik. “Katayef itu merupakan makanan middle east, yang dipopulerkan di Lebanon. Kalau di Indonesia itu seperti pancake,” ujarnya, Sabtu sore.
Tapi persamaan hanya sampai di bentuk. Setelah matang, katayef diisi, dilipat, dan dihias bak permata. Ia bukan sekadar karbohidrat pengganjal, melainkan destinasi rasa.
Pistachio dan Aroma Mawar yang Membisik
Apa yang membuat katayef istimewa? Jawabannya ada di dalam perutnya.
“Katayef ada isian yang lebih ekspensive,” Lukman menjelaskan. “Ada pistachio yang merupakan kacang dengan harga mahal, kemudian ada rose waternya.”
Bayangkan menggigit kulit pancake yang lembut. Lalu, tiba-tiba, remah pistachio renyah pecah di antara gigi. Bersamaan dengan itu, aroma air mawar merayap lembut, membawa ingatan pada taman-taman Damaskus atau toko parfum di Khan el-Khalili.
“Sehingga kalau dimakan itu ada aroma wangi mawar,” imbuhnya. “Jadi katayef memiliki tekstur yang lembut tapi ada crunchy-crunchy nya dari pistachio, dan ada aroma wangi mawar.”
Dari Adonan Hingga Kerucut yang Menggoda
Proses membuatnya seperti merangkai seni. Adonan bulat dimatangkan di atas pan datar, persis seperti membuat pancake. Setelah matang, ia diolesi krim ashta—krim kental khas Lebanon yang lembut dan kaya rasa.
Lalu katayef dijepit perlahan hingga membentuk kerucut kecil. Pada bagian ujungnya yang menganga, taburan pistachio hijau ditebarkan. Hasilnya: seporsi dessert yang tak hanya lezat, tapi juga fotogenik.
Tamu Musiman yang Sulit Dicari
Namun katayef bukan hidangan sembarang waktu. Ia seperti tamu istimewa yang hanya datang saat Ramadan. Di negara-negara Teluk dan Levant, ia berjejer rapi di etalase toko kue. Tapi di belahan dunia lain, termasuk Indonesia, ia hampir mustahil ditemui.