Jurnalis Heti Palestina Yunani Nahkodai Dewan Kebudayaan Surabaya

Ketua DKS
Jurnalis Heti Palestina Yunani nahkodai DKS. - Facebook Heti Palestina Yunani
Melalui mekanisme voting terbuka dalam rapat penyusunan struktur kepengurusan, jurnalis Heti Palestina Yunani terpilih sebagai ketua DKS.

Proses transformasi Dewan Kebudayaan Surabaya (DKS) memasuki babak baru. Melalui mekanisme voting terbuka dalam rapat penyusunan struktur kepengurusan, jurnalis Heti Palestina Yunani terpilih sebagai ketua DKS dan kemudian menunjuk Probo Darono Yakti sebagai sekretaris.

Pemilihan berlangsung cukup dinamis. Empat nama diusulkan sebagai kandidat ketua, yakni Heti Palestina Yunani, Heri “Lentho” Prasetyo, Probo Darono Yakti, dan Heroe Boediarto.

Pada tahap awal pemungutan suara, Heti dan Heri Lentho sama-sama memperoleh lima suara. Situasi semakin menarik karena pada saat rapat berlangsung Heti mengikuti musyawarah melalui Zoom dari atas kapal yang sedang berlayar ke Ambon.

Bacaan Lainnya

Ketika tiba pada babak penentuan, ia menggunakan hak suaranya sendiri. Pilihan itu menjadi suara penentu yang membuatnya unggul satu suara dan akhirnya terpilih sebagai ketua.

“Secara pribadi saya tidak menyangka akan dibawa sampai menerima tugas ini. Semula ikut musyawarah saja tidak bisa karena hendak ke Ambon, tapi bisa saya tunda,” ujar wartawan Disway tersebut, dikutip Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa pada tahap pemilihan pengurus sebelumnya dengan sistem pemungutan tiga suara, dirinya justru memberikan seluruh suaranya kepada kandidat lain.

“Saya tidak menggalang suara dan tidak mempengaruhi siapa pun untuk memilih. Tapi ternyata tetap mendapat dukungan hingga masuk tiga besar,” katanya.

Namun saat penyusunan struktur kepengurusan berlangsung, ia memutuskan menggunakan hak pilihnya sendiri.

“Pada saat penyusunan struktur baru saya gunakan hak suara saya yang menentukan karena itu sudah menyangkut kesanggupan dan komitmen,” jelas alumni Fakultas Antropologi Universitas Airlangga itu.

Menurut Heti, jabatan ketua di Dewan Kebudayaan Surabaya bukanlah bentuk persaingan kekuasaan.

“Ini bukan persaingan menjadi ketua. Posisi ini lebih sebagai fungsi koordinatif karena semua anggota akan bekerja secara kolektif dan kolaboratif,” tuturnya.

Menuju Era Baru Kebudayaan Surabaya

Heti menilai terbentuknya kepengurusan baru DKS menjadi momentum penting bagi pengembangan ekosistem kebudayaan di Surabaya.

Pos terkait