Jika Putin Hampir Pasti Menang Lagi untuk Kelima Kalinya, Buat Apa Rusia Menggelar Pemilu?

1. Vladimir Putin diyakini bakal memenangkan Pemilu Rusia yang digelar pada 15 - 17 Maret 2024, dan bakal menjabat untuk masa jabatan kelimanya sebagai Presiden Rusia. (Canva)
Format Pemungutan Suara yang Menimbulkan Skeptisisme

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Pemilihan Presiden, masyarakat Rusia memberikan suara selama tiga hari, Mulai 15 hingga 17 Maret.

Format ini pertama kali diujicoba pada pemungutan suara tahun 2020, sebagai bentuk pelaksaan amandemen Konstitusi Rusia untuk menjaga kesehatan masyarakat selama pandemi virus corona.

Bacaan Lainnya

Proses tiga hari kembali diterapkan dalam Pemilu kali ini, kendati para pengamat independen mengkritiknya. Mereka menilai bahwa format tiga hari mempersulit upaya untuk memastikan transparansi proses pemungutan suara.

Sistem pemungutan suara daring jarak jauh juga tersedia untuk pertama kalinya—terutama untuk daerah-daerah di mana pihak berwenang kesulitan memastikan jumlah pemilihnya.

Rusia juga memasukkan wilayah pendudukan Ukraina dalam Pemilu sekarang. Kebijakan ini mendapat serbuan kritik, apalagi ada laporan tentang adanya tekanan terhadap penduduk setempat.

Majelis Parlemen (PA) Organisasi Keamanan dan Kerja Sama di Eropa (OSCE) sebenarnya telah mengirimkan pengamatnya ke Rusia sejak tahun 1993, namun aktivitas tersebut terhenti dalam tiga tahun terakhir.

Akibatnya, sebagaimana dilansir BBC, para pengamat dan ahli politik internasional yakin bahwa lebih banyak orang Rusia yang skeptis terhadap pemerintah dibandingkan yang terlihat, namun mereka terlalu takut untuk bersuara. Warga Rusia tak mau menanggung risiko hukuman berat gegara protes.

Namun demikian, suara-suara kritis tetap berusaha untuk muncul, kendati hanya sayup-sayup. Janda Alexei Navalny, Yulia, telah meminta rekan senegaranya untuk memboikot pemungutan suara dan meminta pemerintah asing untuk tidak mengakui hasil pemilu ini.

Ribuan orang berkumpul untuk menghadiri pemakaman kritikus Putin yang dipenjara, Alexei Navalny, pada 1 Maret 2024. (GETTY IMAGES)

Media independen Meduza, mengutip sumber yang dekat dengan pemerintahan Putin, mengungkap bahwa Kremlin sebenarnya khawatir dengan ancaman rendahnya jumlah pemilih karena skeptisisme yang sudah akut.

“Jika masyarakat tidak ragu bahwa presiden saat ini akan menang, mengapa harus pergi ke tempat pemungutan suara?” tulis media tersebut.

Menurut Meduza, hasil yang paling mungkin dari Pemilu Rusia kali ini adalah kemenangan yang meyakinkan bagi Vladimir Putin—setidaknya di atas kertas.

Namun, sebagaimana analisa Meduza, rendahnya jumlah pemilih kali ini bisa diartikan bahwa dukungan terhadap Presiden Putin telah melemah. Dan pada gilirannya nanti, tulis Meduza, dapat menyebabkan kontrol negara menjadi lebih ketat, dan Rusia makin terjerumus dalam suasana ketakutan dan penindasan.◼︎

 

Pos terkait