Jihad Literasi Pesantren Kreatif Baitul Kilmah (2):  Membentuk Santri sebagai Penulis, Penerjemah, Sekaligus Kreator

Santri Ponpes Kreatif Baitul Kilmah, Bantul, dididik untuk menjadi penulis, penerjemah, dan kreator konten. FOTO: SF/Imam Nawawi

Sementara turunan dari visi mengawal progresivitas dinamika keilmuan, Baitul Kilmah menyelenggarakan program-program nonformal seperti jurnalistik, kajian sastra, dan bedah karya. “Khusus untuk pengembangan pengetahuan dan skill jurnalistik, juga ditanamkan melalui pendidikan formal dan ekstrakurikuler,” tambah Aguk.

Melalui kajian sastra dan bedah karya, para santri Baitul Kilmah—baik siswa maupun mahasiswa—diharapkan mempertahankan tradisi akademik di perguruan tinggi.

Bacaan Lainnya

Kegiatan menulis esai sastra, resensi buku, makalah dan kemudian mendiskusikannya di hadapan peserta-peserta lain adalah tradisi akademik perguruan tinggi yang harus dibiasakan sejak dari pondok pesantren.

Santri: Writer, Translator, Creator

Berdasarkan pada visi misi, program dan kegiatan yang diselenggarakan, Baitul Kilmah memaknai seorang santri sebagai penulis (writer), penerjemah (translator), dan pencipta (creator). Laboratorium komputer dan khazanah perpustakaan yang dimiliki pesantren cukup menjadi bekal-bekal awal bagi proses kreatif para santri.

Formula tersebut diperkuat oleh hasil refleksi ketika Baitul Kilmah menjadi tuan rumah bagi mahasiswa Praktik Pengalaman Lapangan (PLL) maupun studi banding dari beberapa perguruan tinggi.

Dalam konteks itulah, Baitul Kilmah hanya bisa memberikan kisah-kisah perjalanan dan pengalaman melahirkan karya tulis. Sementara panduan yang dijadikan pegangan oleh Baitul Kilmah condong bersifat praktis daripada teoritis dan konseptual.

Dengan kata lain, “Di dalam setiap diskusi dengan mahasiswa PPL maupun studi banding, Baitul Kilmah hanya mengulang pelajaran kampus dan mengubahnya menjadi lebih praktis,” jelas Aguk.

Pos terkait