Seorang siswa kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon cengkih, Selasa (3/2/2026), diduga karena depresi keinginannya membeli buku tulis dan pulpen tidak mampu dipenuhi sang ibu akibat keterbatasan ekonomi.
Sebuah tragedi memilukan mengguncang Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. YBR, seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, ditemukan tewas gantung diri di sebuah pohon cengkih setelah keinginannya untuk membeli buku tulis dan pulpen tidak dapat dipenuhi oleh ibunya karena keterbatasan ekonomi.
Surat Perpisahan dalam Bahasa Bajawa
Di lokasi kejadian, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan korban menggunakan bahasa daerah Bajawa. Surat tersebut berisi ungkapan kekecewaan sekaligus salam perpisahan yang menyayat hati untuk ibunya, Reti.
”Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)… Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis),” tulis YBR dalam salah satu penggalan suratnya.
Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R. Pissort, mengonfirmasi keaslian surat tersebut. “Petugas yang turun ke TKP menemukan surat itu, dan benar anak itu yang menulisnya,” ujar Benediktus, Selasa (3/2/2026).
Jerat Kemiskinan di Balik Tragedi
Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, mengungkapkan bahwa malam sebelum kejadian, YBR sempat menginap di rumah ibunya untuk meminta uang perlengkapan sekolah. Namun, sang ibu yang harus menghidupi lima orang anak seorang diri sejak berpisah dengan suaminya 10 tahun lalu, tidak mampu memenuhi permintaan tersebut.
”Hidupnya memang susah. Permintaan itu (uang buku dan pulpen) disampaikan korban tepat sebelum meninggal,” kata Dion.
Respons Pemerintah: Urgensi Data dan Evaluasi Pendidikan
Tragedi ini memantik reaksi keras dari tingkat pusat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan perlunya penguatan data kemiskinan agar keluarga yang membutuhkan perlindungan dan rehabilitasi dapat terjangkau oleh bantuan pemerintah.
”Kita harus memperkuat pendampingan dan data agar tidak ada keluarga yang tidak terdata. Ini menjadi perhatian sungguh-sungguh,” tegas Gus Ipul di Jakarta.
Senada dengan Mensos, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menyebut kasus ini sebagai “alarm keras” bagi negara. Ia menekankan bahwa pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis secara total, termasuk dalam penyediaan alat tulis bagi siswa dari keluarga tidak mampu.
”Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena. Ini koreksi besar bagi sistem pendidikan kita,” pungkas Hetifah.***






0 Komentar