Jejak “Warisan Damai” Paus Fransiskus

Pope Francis melepas burung merpati sebagai simbol perdamaian pada 15 Mei 2013. Foto:Dok Vatican News
Suara Paus Fransiskus bergema dalam satu kalimat sederhana namun mendalam: “Perdamaian bagi dunia.” Kata-kata yang nyaris menjadi litani–ucapan doa–diucapkannya berulang kali dalam setiap audiensi umum, misa khusus, hingga dalam pesan Paskah Urbi et Orbi terakhirnya. Suara yang lemah dari balkon Basilika Santo Petrus, sehari sebelum kepergiannya itu, membawa gema harapan.

__________

Paus Fransiskus, yang wafat dalam usia 88 tahun, bukan hanya dikenang sebagai pemimpin umat Katolik selama 12 tahun. Ia adalah suara yang tak pernah lelah menyerukan perdamaian, bahkan ketika dunia semakin bising oleh deru senjata dan luka yang dibiarkan menganga oleh perang.

Sejak awal kepausannya, Jorge Mario Bergoglio—yang kemudian dikenal sebagai Paus Fransiskus—menempatkan suara mereka yang terpinggirkan sebagai pusat pelayanannya.

Bacaan Lainnya

Ia hadir di wilayah-wilayah yang kerap luput dari sorotan dunia: Sudan Selatan, Irak, hingga Timor Timur. Bagi Paus, penderitaan akibat perang adalah skandal moral yang tak bisa diterima.

Salah satu gestur yang mencengangkan dunia terjadi pada April 2019. Seperti dilansir dari Vatican News,  Paus Fransiskus berlutut dan mencium kaki dua pemimpin Sudan Selatan—Salva Kiir dan Riek Machar—yang berseteru dalam perang saudara. Dalam keheningan ruangan di Vatikan itu, dunia menyaksikan kerendahan hati yang mendesak: “Letakkan senjata, berjalanlah di jalan damai.”

Empat tahun kemudian, ia terbang langsung ke Juba, ibu kota Sudan Selatan. Ditemani Uskup Agung Canterbury dan Moderator Gereja Skotlandia, Paus menyapa ribuan rakyat yang lelah oleh konflik. “Generasi mendatang akan memuja atau melupakan nama kalian, tergantung apa yang kalian lakukan sekarang,” katanya kepada para pemimpin negeri itu.

Melawan Senjata, Membangun Dialog

Paus Fransiskus tak hanya bicara damai; ia menantang akar kekerasan. Ia mengecam industri senjata, perdagangan gelap, dan kekuatan uang yang memelihara konflik. Dalam pidatonya di Kongres AS pada 2015, ia melontarkan pertanyaan menggigit, “Mengapa senjata dijual kepada mereka yang akan menyebar penderitaan? Demi uang? Uang yang berlumuran darah.”

Ia menyebut investasi pada senjata sebagai “kegilaan yang tak bermoral”. Dalam kunjungannya ke Nagasaki dan Hiroshima tahun 2019, Paus dengan tegas menyatakan bahwa kepemilikan senjata nuklir adalah tindakan yang tidak bermoral. Di tempat bom atom meledak, ia berdoa agar dunia tak mengulangi dosa yang sama.

Paus Fransiskus menjadikan diplomasi sebagai ziarah spiritual. Saat mengunjungi Irak tahun 2021, ia bertemu Ayatollah Ali al-Sistani, pemimpin Syiah terkemuka. Dalam pertemuan bersejarah di Najaf itu, dua tokoh lintas iman menyampaikan pesan universal: bahwa perdamaian tidak menuntut menang atau kalah, tetapi pengakuan sebagai sesama saudara.

Ziarahnya ke Timor Timur pada September 2024 menjadi perhentian penting. Negeri kecil yang pernah babak belur oleh konflik itu menyambut pemimpin Vatikan dengan air mata haru. Di Dili, ia berkata, “Bangsa ini tahu bagaimana rasanya kehilangan, tapi kalian juga tahu bagaimana harapan bisa bertumbuh dari puing-puing.” Dalam momen itu, pesan damainya bukan sekadar seruan; ia menjadi pengakuan atas luka dan upaya untuk pulih.

Suara yang Tak Pernah Diam

Hingga akhir hayatnya di Casa Santa Marta, Paus Fransiskus tetap menjadi suara yang menolak sunyi atas kekerasan. Bahkan ketika suaranya mulai melemah, ketika tubuhnya tak lagi mampu berdiri di hadapan jemaat, ia tetap menulis, tetap berbicara, tetap mendoakan perdamaian.

Kini, dunia kehilangan seorang gembala yang menolak pasrah pada kebencian. Tetapi warisannya hidup dalam setiap upaya rekonsiliasi, dalam setiap dialog yang menyatukan, dan dalam setiap jiwa yang memilih untuk tidak membalas luka dengan luka.

Sebagaimana ia sering katakan: “Damai bukan hadiah yang jatuh dari langit. Damai adalah tugas, adalah pilihan.”***

Pos terkait