Sementara di kategori LELA, pesawat Ababil berhasil menempuh misi sejauh 60 kilometer sambil menjatuhkan muatan dan mendeteksi hotspot secara otomatis. Dengan bobot di bawah 4 kilogram, Ababil tetap stabil meski diterpa angin kencang.
Tak berhenti di situ, pada kategori Technology Development, Bayucaraka memperkenalkan inovasi RESCUE — sistem terpadu yang menggabungkan remote control dan pemantauan lewat website.
“RESCUE dirancang untuk mempermudah lembaga tanggap bencana dalam menggunakan drone untuk pemetaan dan inspeksi,” ujar Rama. “Ke depan, kami berharap ini bisa jadi produk unggulan nasional.”
Tim Bayucaraka memastikan riset akan terus berlanjut menuju KRTI 2026, sekaligus menyiapkan diri mengikuti ajang internasional seperti Singapore Amazing Flying Machine Competition (SAFMC) dan Teknofest Turki.
“Kami ingin terus berprestasi sekaligus berkontribusi bagi kemajuan teknologi kedirgantaraan Indonesia,” tutup Rama.***





