Hati-Hati dengan Persepsi

We do not describe the world we see, we see the world we can describe.” Kitalah yang mengkonstruksi dunia ini. Inilah nasihat penting dari Rene Descartes, Bapak Filsafat Skeptisisme. Nasihat ini sepertinya perlu terus kita ingat baik-baik, apalagi di era post-truth seperti sekarang ini, di mana kebenaran dan dusta saling berkelindan.

Jika terjadi bencana alam, memang terjadi bencana. Ada gunung meletus, memang meletus. Tetapi, apa makna dari meletusnya gunung itu, kitalah yang membunyikannya.

Ketika ada Pemilihan Presiden, faktanya memang ada Pemilihan Presiden. Tetapi, maknanya apa bagi kita, isi kepala kitalah yang membunyikan. Sebenarnya, secara teknis, pemilihan itu sederhana saja: ada Pemilu, ada pasangan calon, lalu salah satu pasangan terpilih. Faktanya sesimpel itu.

Bacaan Lainnya

Tetapi, bagaimana fakta itu ‘berbunyi’, semua tergantung isi kepala masing-masing, sesuai kacamata yang kita pakai. Kalau yang terpilih bukan jago kita, mungkin kita membacanya sebagai pemilu yang rusak dan penuh kecurangan. Tetapi, kalau yang menang adalah pilihan kita, kita berkesimpulan bahwa baru kali itu ada pemilu yang adil.

Sebenarnya fakta pemilunya sesederhana itu. Hanya saja isi kepala kita saja yang berbeda-beda dalam membacanya. Begitulah cara realitas dibaca. Maka dari itu, setiap kali ada orang ngomong soal Pemilu, dari pihak mana pun, jangan langsung ditelan mentah-mentah. Begitu juga ketika kita mendapatkan informasi apa pun, jangan ditelan mentah-mentah.

Sebagaimana dikatakan oleh Descartes, ujilah omongan itu.

Wallahu’alam.*

[Disadur dari ceramah Dr. Fahruddin Faiz | Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta]

Pos terkait