Gerakan Pemuda Bertopeng Guncang Saudi: Kritik Pedas untuk Putra Mahkota

Foto pria bertopeng yang mengkritik kebijakan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Muhammad bin Salman diunggah laman Middle East Eye menggegerkan situasi politik di Arab Saudi. Foto: Middle East Eye/ Diedit Sora ChatGPT
Serangkaian video dari sekelompok pemuda bertopeng yang menyuarakan keresahan mereka terhadap situasi di Arab Saudi memicu kegaduhan besar di jagat maya pekan ini. Mereka menuduh adanya penindasan kebebasan dan korupsi, serta menyerukan agar Putra Mahkota Mohammed bin Salman lengser dari jabatannya.

_______________

Video-video tersebut diunggah secara anonim melalui platform seperti TikTok dan menyebar luas ke media sosial lain. Dalam tayangan berdurasi pendek itu, para pria muda tampak mengenakan penutup wajah dan mengubah suara mereka demi menjaga identitas.

Mereka mengkritik keras standar hidup yang menurun, kurangnya lapangan kerja, dan mahalnya biaya hidup, di tengah gelontoran dana besar untuk konser, festival, dan proyek mercusuar dalam program Visi 2030.

Bacaan Lainnya

“Pemuda hari ini bersuara. Mereka menuntut hak-hak dasar: kebebasan dan penentuan nasib sendiri,” tulis salah satu pengguna di X (dulu Twitter), memuji keberanian mereka.

Tak sedikit yang melihat para pria bertopeng ini sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan di dalam negeri. “Mereka bukan sekadar individu. Mereka adalah simbol dari tanah air yang tengah menunggu kelahiran baru,” ujar komentar lain yang viral.

Namun tak semua merespons positif. Seperti dilaporkan Middle East Eye dikutip pada Senin, 26 Mei 20225, muncul pula tagar #خونة_الوطن (#PengkhianatNegara), yang menyebut mereka sebagai provokator asing atau pembangkang di pengasingan yang ingin menggoyang stabilitas negara dari luar negeri.

Sejumlah pengguna media sosial menyuarakan kekhawatiran atas nasib mereka yang tampil dalam video. Pasalnya, sejak Mohammed bin Salman menjabat sebagai putra mahkota pada 2017, penahanan atas unggahan di media sosial—termasuk dari akun anonim—telah menjadi hal biasa.

Kelompok pegiat HAM menyebut UU antiteror dan kejahatan dunia maya digunakan untuk membungkam kritik. Banyak aktivis dijatuhi hukuman penjara panjang dan dilarang bepergian.

Gerakan Solidaritas Meluas

Setelah video pertama muncul awal pekan ini, gelombang solidaritas mengalir. Video-video baru bermunculan, menunjukkan dukungan terhadap ‘Gerakan Pemuda Bertopeng’ dan kritik terhadap kebijakan kerajaan.

Pesan mereka senada: rakyat ditekan, hak-hak dilanggar, dan dana publik dihamburkan untuk hiburan, bukan kebutuhan dasar. “Mereka mencuri uang rakyat untuk membangun ilusi. Proyek-proyek itu gagal diwujudkan, sementara rakyat menderita,” kata seseorang dalam salah satu video.

Ada pula yang menyebut bahwa kerajaan tengah menghadapi kemerosotan moral, menuding konser dan tarian publik sebagai bentuk dekadensi. “Kami tidak akan diam jika dua kota suci kami diperalat demi pencitraan,” ucap tokoh lain.

Beberapa video bahkan mengancam akan melakukan aksi turun ke jalan jika penangkapan terhadap warga yang kritis tidak dihentikan. “Kalau ini terus berlanjut, rakyat akan bangkit. Kami siap menggelar demonstrasi,” ujar seorang pria bertopeng.

Ada pula peringatan langsung: “Mohammed bin Salman, kejatuhanmu akan datang dari tangan rakyat sendiri.”

Laman Middle East Eye, yang pertama kali mengangkat isu ini, menyatakan belum bisa memverifikasi keaslian video secara independen. Beberapa akun yang mem-posting video itu menolak memberikan komentar saat dihubungi.***

Pos terkait