Sebagai catatan, mendiang Allama Hassanzadeh Amoli (wafat 2021) bukanlah sosok sembarangan. Ia merupakan filsuf, mistikus, dan ilmuwan polimatik yang sangat masyarakat Iran hormati.
Karyanya selalu memiliki bobot spiritual mendalam, sehingga banyak pengikutnya kini meyakini bait-bait tersebut sebagai visi kenabian yang benar-benar menjadi nyata.
Konteks geopolitik saat ini semakin memperkuat resonansi dari pesan puisi tersebut. Sejak gugurnya Imam Khamenei, perang proksi telah berubah menjadi konflik terbuka yang melibatkan militer dari berbagai negara.
Angkatan bersenjata Iran merespons kematian pemimpin mereka dengan meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke berbagai pangkalan militer AS dan sekutunya di Teluk, serta wilayah Israel. Kekacauan ini mengganggu jalur penerbangan internasional, merusak fasilitas militer, dan memakan korban jiwa dari warga sipil maupun personel militer di berbagai negara.
Bagi banyak pengamat dan warga biasa, rentetan kehancuran infrastruktur dan ketidakpastian politik yang kini melanda Timur Tengah seolah menggemakan baris puisi yang berbunyi, “Dan dunia akan terguncang oleh kepergiannya.”
Terlepas dari apakah kita memandang puisi ini sebagai kebetulan puitis atau nubuat spiritual yang nyata, kemunculannya sukses memberikan sandaran psikologis bagi masyarakat yang tengah menghadapi realitas perang yang brutal.
Ketika diplomasi antarnegara menemui jalan buntu dan konflik terus memakan korban, narasi tentang kedatangan juru selamat yang akan “menyembuhkan luka dunia” menawarkan secercah harapan terang di tengah gelapnya krisis Timur Tengah.***





