Soekeni, menurut catatan Binhad, merupakan seorang priyayi Jawa dan guru pribumi lulusan Kweekschool atau Sekolah Guru di Probolinggo. Ia meninggalkan Bali menuju Surabaya setelah dimutasi sebagai guru pembantu di Tweede Klasse School atau Sekolah Ongko Loro.
Sesuai beslit atau surat ketetapan resmi, Soekeni bekerja di Bali sebagai guru pembantu di Tweede Klasse School sejak 10 Oktober 1891 hingga 8 Agustus 1898. Dan dia resmi bekerja sebagai guru pembantu di Tweede Klasse School di Surabaya sejak 8 Agustus 1898 hingga antara November-Desember 1901. Ketika Soekeni dan Ida Ayu tinggal di Surabaya ini lahir anak pertama mereka, Soekarmini, pada 13 Maret 1899.
Sementara itu, pengamat sejarah dari Surabaya, Kuncarsono Prasetyo, menyatakan—sebagaimana dikutip dari tulisan Mengupas Sisi Lain Perjalanan Hidup Sukarno di Jawa Timur, detikjatim (1/6/2022)—selisih usia kakak beradik Soekarmini dan Sukarno adalah 3 tahun.
Dengan demikian, jika Soekarmini lahir pada tahun 1899, maka sangat tepat jika Sukarno dilahirkan tahun 1902.
Dikonfirmasi 7 Profesor
Perihal kelahiran Sukarno pada tahun 1902 juga dijelaskan secara gamblang dalam buku Ida Ayu Nyoman Rai, Ibu Bangsa, yang ditulis secara kolektif oleh Guru besar Program Pasca Sarjana Universitas Darul Ulum Jombang Prof. Dr. Tadjoer Rizal Baiduri, bersama dengan enam profesor dan doktor lainnya, yaitu Dr. Nurinwa Ki S. Hendrowinoto; Prof. DR. A.A. Putra Agung; Prof. Dr. Aminudin Kasdi; Prof. Dr. Fabiola D. Kurnia; Prof. Dr. Roesminingsih; Prof. Dr. A Fatchan; dan Prof. Dr. Jacob Sumardjo. Buku tersebut diterbitkan oleh Kemang Studio Aksara pada tahun 2012.

Pada Bab IV buku tersebut, Prof Tadjoer menjabarkan dokumen pribadi Soekeni berupa berupa tulisan tangan terkait kelahiran putra keduanya, Kusno. Soekeni menuliskan bahwa Kusno lahir pada 6 Juni 1902.
Merujuk pada dokumen tersebut, maka bisa dipastikan Sukarno dilahirkan di Ploso Jombang. Sebab, pada 6 Juni 1902 Soekeni sedang bertugas di Ploso—saat ini termasuk wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur—di mana dia juga membawa istrinya, Ida Ayu Nyoman Rai Srimben dan putri pertamanya, Soekarmini.
Soekeni menjalankan tugasnya menjadi mantri guru di Ploso berdasarkan beslit atau Surat Keputusan (SK) No. 16232 tanggal 28 Desember 1901, yang ditandatangani Direktur Pendidikan, Peribadatan, dan Kerajinan Pemerintah Hindia Belanda. Dalam SK tersebut tertulis bahwa Soekeni diangkat sebagai Mantri Guru—sekarang disebut Kepala Sekolah—di Sekolah Ongko Loro di Ploso, Surabaya.
Sebagai informasi, pada zaman Belanda, Ploso merupakan ibu kota Kawedanan—atau Pembantu Bupati—yang masuk dalam Residensi Surabaya. Dalam buku tersebut juga dituliskan pada 12 Mei 1902, keluar beslit yang menetapkan gaji Soekeni menjadi sebesar 50 gulden. Dia bertugas di Ploso dari tahun 1901 sampai 1907.*





