Masyarakat global, termasuk di Indonesia, memadamkan lampu selama satu jam penuh pada Sabtu malam sebagai aksi simbolis mitigasi perubahan iklim.
Aksi lingkungan terbesar di dunia, Earth Hour, kembali digelar serentak pada Sabtu (28/3/2026). Gerakan ini mengajak individu, komunitas, hingga pemerintah untuk mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak diperlukan selama 60 menit, mulai pukul 20.30 hingga 21.30 waktu setempat.
Earth Hour bukan sekadar memadamkan listrik, melainkan sebuah komitmen global dalam menekan emisi karbon dan penghematan energi. Di berbagai kota besar, ikon-ikon ikonik dan gedung perkantoran dipastikan akan gelap gulita selama satu jam sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan bumi.
Menikmati Satu Jam Tanpa Teknologi
Meski tanpa listrik, momen Earth Hour dapat dimanfaatkan untuk membangun kedekatan emosional yang sering terabaikan akibat dominasi teknologi. Suasana malam yang redup justru menciptakan atmosfer hangat untuk refleksi diri maupun kebersamaan.
Beberapa kegiatan bermakna dapat dilakukan selama satu jam tersebut, antara lain meluangkan waktu berkualitas bersama keluarga dengan penerangan lilin yang sederhana. Interaksi langsung tanpa gangguan gawai diyakini mampu mempererat hubungan antarpersonal.
Selain itu, permainan konvensional seperti kartu atau papan permainan bisa menjadi alternatif seru untuk menghidupkan tawa di tengah kegelapan. Bagi mereka yang mencari ketenangan, Earth Hour juga menjadi waktu yang tepat untuk melakukan meditasi singkat di area terbuka seperti balkon atau taman guna menghirup udara malam yang tenang.
Aksi simbolis ini diharapkan tidak berhenti pada pemadaman lampu semata, namun menjadi pemicu perubahan gaya hidup masyarakat agar lebih ramah lingkungan dalam aktivitas sehari-hari.***





