“JANGAN BERANI MATI SEBELUM MEMILIKI MESIN PENCETAK PAHALA YANG MENGALIR SAMPAI HARI KIAMAT. MESIN ITU ADALAH WAKAF,” seru Eman.
Sejalan dengan semangat tersebut, Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah, Saiful Mujab, menegaskan bahwa gerakan ini adalah panggilan nurani. Ia mengajak seluruh jajarannya untuk melihat wakaf sebagai investasi jangka panjang yang tidak akan putus.
“Pertanyaannya, wakaf uang kita setelah kita meninggal terputus atau tidak? Ayo kita yakini bersama, kita dorong bersama bahwa wakaf ini akan bermanfaat dan pahalanya akan tersambung sampai akhirat,” ungkap Saiful.
Ia juga menambahkan bahwa Kemenag perlu terus mengoptimalkan sektor wakaf, melengkapi program pemberdayaan ekonomi umat via Baznas yang sudah berjalan lebih dulu.
Gerakan wakaf uang memang menjanjikan aliran pahala abadi dan potensi besar untuk mengentaskan kemiskinan umat. Akan tetapi, kesuksesan program semacam ini idealnya berjalan beriringan dengan pemenuhan hak-hak para pesertanya.
Menghimbau guru madrasah berwakaf saat perut dan pikiran mereka masih didera kecemasan akibat TPG yang mandek, ibarat menanam benih di atas tanah yang kering.
Pemerintah perlu segera menuntaskan kewajibannya mencairkan hak guru, agar niat baik berwakaf kelak benar-benar lahir dari hati yang lapang, bukan dari rasa sungkan apalagi keterpaksaan.***





