Cak Imin Minta Bahlil dan Raja Juli Lakukan Tobat Nasuha soal Banjir Sumatera

Menko Pemberdayaan Masyarakat Cak Imi. - Dok. PKB
Cak Imin desak tiga menteri evaluasi total kebijakan lingkungan usai banjir Sumatera.

Menko Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar atau Cak Imin meminta tiga menteri Kabinet Merah Putih—Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Kehutanan Raja Juli, dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq—melakukan tobat nasuha berupa evaluasi total seluruh kebijakan terkait lingkungan. Seruan ini disampaikan merespons banjir besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Dalam Workshop Kepala Sekolah Program SMK Go Global di Bandung, Senin (1/12/2025), Cak Imin menyampaikan telah mengirim surat resmi kepada tiga menteri tersebut. Ia meminta evaluasi menyeluruh mulai dari perencanaan hingga implementasi kebijakan agar bencana serupa tidak terus berulang.

“Hari ini saya mengirim surat ke Menteri Kehutanan, Menteri ESDM, Menteri Lingkungan Hidup untuk bersama-sama evaluasi total. Evaluasi kebijakan, policy, dan langkah kita sebagai wujud komitmen dan kesungguhan pemerintah,” kata Cak Imin, Senin (1/12/2025). “Bahasa NU-nya taubatan nasuha,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Ia menegaskan perlunya perbaikan serius dalam tata kelola lingkungan. “Dari sejak kita berpikir, melangkah, dan berbuat. Kiamat bukan sudah dekat. Kiamat sudah terjadi akibat kelalaian kita sendiri,” ujarnya.

Ajakan Pertobatan Ekologis

Ketua Umum PKB itu menekankan agar bencana di akhir tahun tidak lagi menjadi siklus yang berulang. “Kebijakan-kebijakan dalam tanda petik evaluasi dan tobat ini harus dilakukan total sehingga November nanti tidak terjadi lagi,” tegasnya.

Cak Imin mengingatkan bahwa gagasan pertobatan ekologis sudah pernah ia serukan dalam debat cawapres Pilpres 2024 pada 21 Januari 2024. Pertobatan itu, kata dia, harus dimulai dari aspek etika: mematuhi aturan, menghindari perilaku ugal-ugalan, dan menjunjung tinggi etika pembangunan.

Ia juga merujuk ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus (24 Mei 2015), yang menyebut krisis ekologis dapat memicu krisis kemanusiaan dan ketidakadilan. Penyebab utamanya adalah egosentrisme manusia.

Pos terkait